Mengapa Saya Mengikuti Imagine Cup

Ada satu masa dimana saya berada di puncak tertinggi dari sebuah entitas yang disebut ‘Semangat’. Oh, sebelumnya saya harus berterima kasih kepada —tentu saja kepada orang tua saya yang memutuskan untuk menyekolahkan saya di kampus ini, dan— kakak-kakak panitia PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) 2011, yang meskipun bagi beberapa mahasiswa baru (termasuk saya) pada saat itu PDKT adalah neraka, tapi setidaknya kini saya menyadari betapa penting dan berhasilnya proses PDKT tersebut.

Ada satu hari, satu sesi, dimana kami para mahasiswa baru dikumpulkan di Gedung Serba Guna. Dan seperti biasa, saya selalu bersemangat untuk menikmati acara kali ini, meski seringkali hanya bertahan di 30 menit pertama.

Namun kali ini berbeda, dari menit pertama sampai menit terakhir, saya tetap semangat. Bahkan terbakar. Tentu saja, karena kakak-kakak panitia menampilkan para juara yang telah mengharumkan nama kampus bahkan nama indonesia di kancah dunia. Dari sekian puluh yang ditampilkan, nyaris tanpa satupun mahasiswa dari Program Studi (PRODI) yang saya ambil. Saya sempat shock, minder, dan sempat bertanya-tanya, apakah saya tidak bisa mengharumkan nama kampus bahkan negara melalui PRODI teknik Industri?

Masih belum terjawab pertanyaan tadi, muncullah beberapa senior yang saat itu menurut saya sangat keren, membanggakan. Mereka berjaya di Imagine Cup, sebuah kompetisi IT yang paling bergengsi di dunia, yang diadakan oleh Microsoft. Merah putih dikibarkan di tangan mereka.

Mungkin karena by nature passion saya memang di dunia IT, dan saya sangat doyan untuk ikut berbagai kompetisi, maka detik itu juga, Imagine Cup menjadi salah satu sesuatu yang akan saya kejar. Terlepas dari PRODI mana saya berasal, saya tidak peduli. Where there is a will, there is a way, isn’t it?

Singkat cerita, tiga bulan setelah PDKT, yang juga berarti sudah tiga bulan berstatus mahasiswa, saya akhirnya benar-benar berkompetisi di Imagine Cup 2012.

Saya bergabung dengan dua tim; Daltonica dan Namaste. Daltonica terdiri dari saya, dan dua senior saya dari jurusan informatika (Kak Fiqi,2007 dan Kak Boni,2009). Tim ini tidak terjun ke kompetisi local, melainkan langsung terjun di worldwide competition di kategori Windows Phone dan Kinect Fun Labs. Sedangkan Namaste adalah tim yang saya bentuk bersama dengan Ainu (Sistem Informasi, 2011), Reza (Informatika, 2011) dan Arif (Elektro, 2011). Dan tim Namaste ini terjun di local competition.

Singkatnya, saya mengikuti kompetisi Imagine Cup pertama kali di tahun pertama saya, dan dari jurusan yang anti-mainstream di kompetisi tersebut, dan dengan tiga project sekaligus, dengan dua tim yang berbeda.

Lantas apa yang saya dapatkan dengan tiga project dari dua tim yang berbeda dalam satu kompetisi super ketat itu?

  1. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya berasal dari Program Studi Teknik Industri, dimana kompetisi IT benar-benar bukan ladang untuk saya, bahkan saya tidak belajar apa itu pemrograman (algoritma belajar, sih). Maka dari sana, saya harus banyak belajar hal baru yang mungkin, sebenarnya itu tidak terlalu berguna dalam kuliah saya sehari-hari. Dan dari sana, saya menjadi tahu lebih banyak hal dibandingkan mahasiswa setingkat pada umumnya :)
  2. Deadline. Bagaimana ketika kuliah memasuki masa-masa sulit, dan deadline dari tiga project tersebut datang bertubi-tubi. Disanalah saya belajar bagaimana mengatur waktu, mengatur prioritas, dan keluar dari zona nyaman saya. Memang belum bisa dibilang berhasil, saya keteteran disana-sini. Tapi tidak mengapa, bagi saya dengan gagal dan salah itulah saya dapat menemukan apa itu berhasil dan benar.
  3. Kerja tim. Dengan dua tim sekaligus, yang mana anggota timnya juga baru saling kenal, benar-benar membutuhkan usaha yang kuat. Toleransi dan komunikasi yang baik adalah kuncinya. Dari sini saya banyak belajar berpendapat, mengalah, dan bekerja sama.
  4. Dan tentu saja, dari kompetisi ini saya belajar untuk berjuang, berusaha keras untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan, yang saya impikan. Mental saya benar-benar diuji disini. Keringat, bahkan air mata mengalir deras selama kompetisi ini berlangsung.
  5. Ilmu, inspirasi dan relasi baru.

Memang di Imagine Cup yang pertama bagi saya ini, saya belum berhasil meraih prestasi. Hanya sebatas 20 besar local competition (Namaste), dan dua project Daltonica lolos di Top 100 dunia. Tapi bagi saya, pengalaman dan hal-hal menarik yang saya dapatkan selama berkompetisi itulah yang paling penting, karena itu semua akan terus melekat disini; hati dan pikiran saya.

Nah, buat kalian para mahasiswa yang ngakunya ingin memperbaiki dunia, yang merasa punya ide briliant yang akan merubah dunia untuk menjadi lebih baik, dan ingin mendapatkan pengalaman berkompetisi yang luar biasa, silahkan daftar dan berkompetisi diImagine Cup 2013 :D

Semoga tahun ini saya bisa kembali berkompetisi di Imagine Cup dan kali ini dapat menyumbangkan prestasi bagi kampus dan Indonesia.

Aamiin,

Leave a Reply