Mimpi Seperempat Abad

Pembangunan tol sumatera

Indonesia bukan cuma Jakarta, bukan juga cuma pulau Jawa. Di usia saya yang mendekati seperempat abad ini, akhirnya saya merasa mulai adanya pemerataan yang —meskipun belum signifikan— tapi mulai terlihat hasilnya. Pemerintah sudah mulai bergerak, sekarang pertanyaannya, kita —yang katanya generasi paling kreatif— sudah mulai apa?

Saya selalu diingatkan untuk tidak merendahkan mimpi dan diri saya sendiri dengan hanya bermimpi untuk bisa hidup nyaman sambil duduk di balik layar monitor di suatu sudut ruangan berpendingin. Atau jangan-jangan angan kita sebatas ribuan likes dan followers di media sosial? Ngg— itu sih terlalu rendah dan terlampau mudah bagi kita yang lahir dan hidup di negara sebesar Indonesia. Walaupun bagi sebagian orang mungkin jawabannya akan semudah “kenapa tidak?”

Beberapa waktu lalu ketika saya sedang di Surabaya, saya sempat berbincang dengan salah satu pemilik media cetak di sana. Dalam pandangannya, beliau sangat paham tentang bagaimana semua ini akan shifting ke platform digital, termasuk media. Namun dilema bagi beliau —yang tidak paham dengan platform tersebut— karena beberapa kali merasa kesulitan ketika inisiatif digital-nya mulai dijalankan.

“Susah Gung, tidak ada yang paham, apalagi saya. Jadinya ya nyuruh orang, tapi ujung-ujungnya nggak beres meski sudah keluar uang banyak”

Benar saja, setelah saya lakukan audit kecil-kecilan sambil menelusuri rekam jejak media milik beliau di dunia maya, bisa saya simpulkan bahwa beliau sudah beberapa kali “dipermainkan” oleh orang-orang yang beliau percayai untuk mengurus media digital-nya. Lebih parah lagi, saya menemukan ternyata ada orang dalam yang memanfaatkan kegagapan teknologi beliau untuk keuntungan pribadi. Ja—hat.

Persiapan pengambilan gambar ‘Empowering Indonesia through Digital Technology’

Saya hanya bisa menggeleng tak habis pikir, prihatin sekaligus merasa bersalah dan langsung menawarkan bantuan untuknya. Karena Ini tanggung jawab besar saya sebagai manusia yang mengaku berpendidikan dan paham teknologi, bahwa apa yang kami serukan —semangat yang kami usung di kantor, di kampus-kampus, di Jakarta tidak pernah sampai ke sini, kota terbesar kedua setelah Jakarta yang hanya berjarak kurang dari 2 jam penerbangan. Atau mungkin sebenarnya sampai, tapi hanya sebatas di area elit seperti kampus yang mungkin mahasiswa-nya pun sudah mulai enggan bersentuhan dengan masyarakat.

Ini juga yang membuat saya sangat bersemangat untuk ikut berkolaborasi bersama rekan-rekan digital marketers dari berbagai perusahaan di Indonesia untuk membuat campaign dengan tema Empowering Indonesia Through Digital Technology.

Berjalan sedikit ke bagian barat Indonesia ketika beberapa waktu lalu saya bersama teman-teman dari NGO —yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi, mengunjungi salah satu daerah di selatan pulau Sumatera. Menyusuri jalan-jalan kecil dengan motor bebek lalu sesekali berteduh di salah satu warung ketika hujan turun. “Mudah-mudahan mas sama mbak bisa sering-sering kesini ya, biar bisa bantu kami ini. Pemerintah jarang mau kesini kecuali kalau mau pemilu” ujar salah seorang pemilik warung yang kami singgahi saat itu sembari menikmati gorengan di tepi hamparan sawah yang mulai menguning.

“Anak saya jadi rajin belajar dan ingin kuliah sejak melihat  mas dan mbak kesini beberapa bulan lalu, ingin jadi seperti Mbak Nisa katanya” —entah saya yang terlalu sensitif atau bagaimana tapi rasanya saya ingin meneteskan air mata mendengarnya. Jujur baru kali itu saya merasa bahwa kehadiran saya —kami, dirasa begitu berarti bagi orang lain, begitu dinantikan.

Dari sana, dari hal-hal yang saya temui di Surabaya dan Sumatera, saya jadi paham bahwa kita harus melangkah lebih jauh, lebih dalam, untuk bisa mengkreasikan sesuatu yang bisa diterima oleh semua. Bahwa saya, harus terus belajar dan lebih banyak melakukan. Bahwa membangun negeri ini harus dimulai dari tingkat akar rumput.

Dan sejalan dengan tema peringatan kemerdekaan tahun ini yaitu Kerja Bersama, teriring doa untuk mereka yang tanpa lelah bergerilya menyentuh masyarakat dengan hati yang paling tulus. Ijinkan saya untuk pelan-pelan ikut turun tangan, membangun mimpi para pendiri negeri ini.

Terima kasih juga saya ucapkan untuk sahabat dan rekan-rekan saya —anak-anak muda cerdas yang selalu siap memberikan ilmunya, membuka wawasannya kapanpun saya butuhkan, yang terus mengejar apa yang mereka impikan sambil terus berjalan membangun Indonesia di bidang-nya masing-masing, yang saling mengingatkan untuk bukan hanya memperbaiki kualitas diri tapi juga membangun bangsa.

Dirgahayu Indonesia heart

Leave a Reply