minggu kelabu

Ayah dari Mama-ku malam tadi meninggal dunia. Sudah setahun ini beliau jatuh sakit. Padahal dua-tiga tahun kebelakang, beliau segar-bugar. Kadang masih bisa ke sawah, atau ke kebun kopi untuk melihat hasil panennya. Bahkan kira-kira 1,5 tahun yang lalu beliau sempat membeli sebuah motor karena sepertinya gatal melihat anak-anak muda yang asik dengan motornya. Meski akhirnya jatuh dalam sebuah kecelakaan. Untungnya tidak terlalu parah. Dan mama hanya bisa geleng-geleng mendengarnya.

Setahun terakhir, beliau sering jatuh sakit. Tingkat kesehatannya fluktuatif. “Tapi unggang (sebutan kakek) mu itu aneh, di rumah dia sakit, pas dibawa ke rumah sakit di palembang dia sembuh, bahkan bisa main sama cucu-cucunya. Pas dibawa ke rumah lagi, dia sakit lagi”, kira-kira itulah yang mama pernah bilang.

Seminggu ini, keadaannya makin parah. Mama mulai gelisah, aku? sama. Dan kemarin, keadaannya makin kritis. Kakekku koma.

Subuh tadi, mama angkat koper ke palembang. Dia pulang, mengantar ayahnya pulang, kali ini ke rumah-Nya yang dimana dia tidak akan pernah sakit lagi. Jujur saya tidak tega melihat mama begitu sedih, menangis. Melihatnya, hati ini terasa teriris-iris. Dan betapa menyesalnya saya ketika saya hanya bisa mengantarnya, dan mencium pipi mama sambil berkata “hati-hati ya, Ma”, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Selamat jalan, Unggang. Pasti disana enak ya nggang, nggak ada suara berisik cucu-cucumu ini. Maaf juga belum bisa ngajak Unggang ke Bandung. Terus, terima kasih sudah melahirkan Mama yang begitu hebat buatku. Semoga amal ibadah Unggang diterima, ya, aamiin. Sampai ketemu lagi.

Leave a Reply