Mudik

Akhirnya mudik, lagi! Setelah dua tahun belakangan saya sekeluarga vakum melakukan ritual mudik ke Sumatera, alhamdulillah tahun ini kami diberikan rezeki dan kesempatan lagi untuk mudik asik ke Desa kelahiran Mama.

Bersemangat dan akan selalu begitu setiap akan berangkat. Entahlah, saya dan kedua saudara saya sejak kecil selalu bersemangat ketika tahu bahwa kami akan melakukan perjalan mudik sekeluarga. Meski pada akhirnya kami sama-sama tahu, sebagai anak yang lahir dan tumbuh di kota, tinggal selama kurang lebih seminggu di sebuah desa yang panas dan jauh dari mana-mana dan tentu saja minim akses internet, bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Alhasil, mana pernah kami betah berlama-lama disana.

Dulu, waktu saya dan adik saya masih (terbilang) kecil, Mama sering protes karena baru sehari-dua hari di rumah kajut (panggilan untuk nenek), kami sudah merengek minta pulang karena tidak betah. Sekarang sih tinggal adik saya yang rewel.

Mudik kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan mudik-mudik sebelumnya. Tentu saja yang paling terasa adalah komposisi keluarga yang berbeda sejak sepeninggalan Papa dan masuknya Dimas sebagai menantu Mama, selain itu mobil yang kami gunakan juga sudah jauh berbeda, kapal ferry yang jauh lebih besar dan bagus dibandingkan yang lalu-lalu, dan tentu saja rasa lelah yang berbeda karena kali ini saya yang menjadi driver rolleyes

Meski awalnya Mama sempat ragu akan jadi berangkat mudik atau tidak, mengingat beberapa minggu bahkan hari sebelum mudik, kesehatan saya sedang terganggu. Bahkan selama perjalanan dan sampai sekarang pun saya masih rutin minum obat. Tapi alhamdulillah perjalanan bolak-balik sejauh kurang lebih 1000 km berjalan aman, lancar, dan menyenangkan.

Yang tidak pernah berubah dan yang paling saya suka dari mudik bersama keluarga adalah suasana di dalam mobil ketika dalam perjalanan. Seperti yang pernah saya tuliskan di tumblr saat momen lebaran entah tahun kapan;

Mobil bisa menjadi ruang tamu yang ramah, ruang keluarga yang hangat, dan ruang makan yang nikmat ketika seluruh anggota keluarga berada di dalamnya dalam sebuah perjalanan.

Menariknya, meski secara fisik Papa sudah tidak ada di dalam mobil itu, tapi memori akan candaan, tingkah, dan cara menyetirnya selalu masuk dalam candaan dan obrolan kami. Jadi merasa secara tidak langsung, Papa-pun ada di sana heart

Well, begitulah cerita singkat mudik kali ini. Mudah-mudahan akan ada cerita-cerita mudik asik lagi di tahun-tahun berikutnya ya, aamiin.

Selamat Lebaran!

 

Leave a Reply