Mungkin

Halo, mungkin kamu bertanya kenapa aku bisa seperti ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa aku setega ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa aku menahan gejolak rindu yang dipaksa untuk pura-pura tidak tahu ini. Mungkin kamu bertanya bagaimana bisa secepat ini aku melepas rasa yang sudah tumbuh sebesar dan sekokoh ini. Mungkin juga kamu bertanya masihkah ada kesempatan untuk kita kembali menyatu.

Halo kasihku —itupun jika kamu masih pantas untuk aku panggil kekasih—, mudah saja aku menjawab semua rasa tanya dan penasaranmu. Karena semua jawaban adalah dirimu. Aku begini karena dirimu. Kamu pun pasti tahu andai tidak pura-pura lupa, aku adalah jenis laki-laki paling perasa, dan perasaanku padamu adalah rasa yang paling besar dan yang paling menyita tenaga dan pikiranku. Pikirmu, aku bisa menebang habis semua rasa yang sudah tumbuh sebesar itu? Pikirmu mudah menepis bayangmu yang sudah nyaris sewindu ini menemani hari-hariku?

Bukankah aku sudah pernah bilang, baik-baik disana, karena aku pun disini akan menjadi orang yang baik-baik. Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku paling tidak suka dikhianati. Meski pada akhirnya aku akan lebih banyak memaafkan ketika tersakiti. Kamu terlalu sering memainkan perasaanku. Dan kini aku lelah dan mungkin akan menyerah. Mungkin akan lebih baik merelakan daripada terus menyakitkan. Mungkin akan lebih baik mengikhlaskan daripada harus berjuang sendirian.

Karena akan ada fase dimana yang paling sabar menjadi muak, yang paling peduli menjadi masa bodoh, yang paling setia akan menjadi pergi ketika sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.

Dan untuk pertanyaan terakhir, jawabannya adalah mungkin. Aku tidak berani mendahului masa depan. Mari perbaiki diri masing-masing, siapa tahu Tuhan punya takdir lain.

Selamat malam, manis.

*Dua puluh satu jam paska enam belas panggilan, dan sekian belas pesanmu aku abaikan untuk yang pertama kali. Mohon dimengerti dan dimaafkan.

Leave a Reply