mungkin akan beda

Entahlah, saya sudah minta maaf berkali-kali tapi masih ada yang mengganjal di dada. Masih ada awan panas di dada. Padahal menurut saya nggak gede-gede banget deh kesalahan saya sama beliau, Pak Farid.

Jadi beliau ini adalah orang Navcore, pertemuan pertama memang kurang baik, ketika kak awwal dan kak nisa dan siapapun nggak ada yang bisa, saya cabut dari kelas fisika lalu melaju kencang ke pasir kaliki. 

Saya perkirakan pukul 11 siang sampai di lokasi (karena memang instruksi kak awwal saya harus sampai di lokasi jam segitu), lalu quick-meeting dengan beliau, lalu setengah 12 saya sudah bisa pergi lagi ke kampus, kuis. Kenyataannya, pukul 11 saya sampai di lokas, dan sampai pukul setengah 12 saya masih bengong. Saya mulai emosi dengan semuanya, dengan kak awwal, dengan pak farid, dan semuanya. 

Akhirnya saya kontak mereka-mereka itu dengan emosi yang masih tinggi, bahkan pak farid sepertinya juga ikutan emosi ketika saya telpon, karena ternyata beliau sedang rapat. Ah, anjirlah pokoknya. 

Setengah jam lagi kuis dimulai, dan saya masih bengong. Akhirnya muncul pak Farid, saya dibawa ke tempat makan, tanpa basa basi saya todong pak farid dengan pertanyaan yang cepat dan singkat. Saya tolak tawaran makan siangnya. Untungnya beliau ngerti kalau saya sedang buru-buru.

Dua puluh menit lagi kuis dimulai, dan saya kebut-kebutan di jalan. Alhamdulillah cuma telat lima menit.

Saat itu saya sedang berada di bis berukuran besar, kapasitas 52 orang. Tapi lihat, penumpangnya hanya 5 orang. Bis yang disediakan microsoft ini mubazir. Dan Pak Farid menelpon saya dengan nada yang agak tinggi sekaligus kecewa. Ya, saya salah pak, maaf.

Siang itu saya masih di jogja, tepatnya di sentra oleh-oleh khas jogja, sampai akhirnya saya putuskan untuk menemui Pak Farid yang juga sedang berbelanja, dan memberanikan diri untuk meminta maaf sekaligus mengklarifikasi semuanya, seorang diri. Iya pak, maaf, saya salah, maaf banget. Namun tidak ada ekspresi marah atau kesal dari wajah beliau, nada tinggi pun tak ada. Justru beliau menepuk-nepuk pundak saya, sambil berkali-kali mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Dan beliau juga menanyakan bagaimana acaranya? apakah ada dari kami yang menang? Dan, sebuah kalimat penutup, kamu masih tahun pertama kan? Nggak apa-apa, lain kali lebih dipersiapkan lagi, ya. Terima kasih, Pak Farid.

Mungkin akan beda ceritanya kalau saat itu beliau memarahi saya, membentak saya, dan menceramahi saya. Mungkin tidak akan ada lagi perasaan bersalah ini. Mungkin akan beda.

Leave a Reply