MNGKN

Di tahun ini untuk pertama kalinya saya datang ke pernikahan tanpa ditemani orang tua atau kakak saya, yang artinya, itu adalah pernikahan teman saya. Kabar baiknya, semakin kesini semakin banyak teman saya yang mulai memantapkan pilihannya pada seseorang, yang lagi-lagi membuat saya penasaran, bagaimana bisa semudah itu untuk mengambil keputusan besar seperti sebuah pernikahan?

Enggak, sih, enggak semudah itu, saya tau kebanyakan dari mereka yang sudah menikah ataupun tunangan bukanlah pasangan kemarin sore. Paling tidak sudah saling kenal atau bahkan menjalin hubungan lebih dari 3 tahun, bahkan 6 atau 7 tahun. Maka tentu saja, saya ikut berbahagia.

Tapi, ternyata masih ada juga yang —bisa dibilang— belum paham cara menjalin sebuah hubungan. Sebagai pihak yang sering dijadikan “tempat sampah”, kadang saya jengah.

Logikanya, sebagai manusia kita menjalin sebuah hubungan untuk bahagia, kan. Enggak perlu bahagia-bahagia banget, tapi seenggaknya ya jangan kebanyakan berantem, bentak-bentak, nangis di pinggir jalan, pusing apalagi sampai terjadi kekerasan secara fisik.

Entah belum paham atau pura-pura tidak paham bahwa hal-hal itu tadi adalah pertanda sebuah hubungan yang buruk—a toxic relationship. “Ya namanya juga pacaran pasti ada berantemnya”, betul, tapi ada batas wajarnya kan? Memang budaya kita yang semakin terobsesi dengan romantisme ini membuat semua itu terasa wajar bahkan indah —yang semakin menyedihkan semakin romantis katanya. Gilak.

“Ya mudah-mudahan nanti dia sadar, terus berubah” —Oiya, jelas. Dan dengan menunggu dia berubah kamu sudah buang-buang waktu dan tenaga untuk dia.

Mungkin ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri sebelum memutuskan untuk memulai, tentang benarkah kita sedang jatuh cinta pada seseorang, atau sekedar rindu untuk dirindukan, rindu untuk dibuat menangis dan lelah karena seseorang. Mungkin kita sekedar rindu untuk bermain peran dalam labirin rasa yang sebenarnya tidak pernah ada.

Nyam.

Leave a Reply