On Compatibility

Sejak saya memutuskan akan menikah dengan Aswita awal tahun nanti, banyak sekali pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri. Sebenarnya tanpa perlu menunggu momen nikah-nikahan ini juga saya selalu punya banyak pertanyaan di kepala; hanya saja kali ini substansi pertanyaannya lebih banyak tentang kehidupan dan hubungan-interaksi antar manusia.

Bertanyanya pun bukan dalam konteks meragu seperti yang banyak orang ceritakan di masa menjelang pernikahan, melainkan sekedar memenuhi rasa penasaran saya akan sebuah alasan logis dibalik terjadinya sesuatu.

Ada satu pertanyaan yang menarik saya cukup dalam, yaitu tentang bagaimana saya, justru bisa mantap untuk menetap pada hubungan yang frekuensi interaksinya bisa dibilang tidak seintens hubungan yang sudah-sudah. Bukankah komunikasi-dan-interaksi is the key?

Sebelumnya saya mengimani bahwa hubungan yang baik terbangun dari dua manusia yang berbeda bahkan cenderung berlawanan hingga terjalin sebuah sinergi yang saling membangun. Filosofi tionghoa menjelaskannya dalam konsep Yin dan Yang— baik dan buruk, hitam dan putih. Pun masyarakat mengamini konsep ini dalam hampir setiap aspek kehidupan dengan jargon ‘Manusia lahir berbeda-beda untuk saling melengkapi’.

Termasuk saya, yang lahir dan tumbuh dari kedua orang tua yang bisa dibilang begitu berbeda dalam setiap hal; Mama yang cenderung talk-active dan almarhum Papa yang pendiam misalnya. Pun faktanya saya selalu jatuh hati pada perempuan yang berlawanan secara sifat; yang ramai, yang seru— talk-active. Tapi kemudian saya menganggap hal tersebut adalah bagian self-fulfilling prophecy yang terjadi pada diri saya.

Sampai akhirnya tahun lalu, bertemu dengan Aswita yang secara umum memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan saya.

Berbeda dari yang sudah-sudah, chemistry diantara kami terbangun dengan sangat lambat. Tidak jarang pertemuan-pertemuan kami berdua lebih terasa seperti sesi wawancara dibandingkan sebuah kencan; Agung sebagai pewawancara yang terus memutar otak untuk mencari topik bahasan dan Aswita sebagai narasumbernya. Sebabnya, sebagai sesama makhluk pendiam, ruang kosong diantara kami sering terisi oleh hening yang menyesakkan. Hingga tak jarang muncul keraguan tentang dia yang sebenarnya tidak begitu nyaman bersama dengan saya. Untungnya hal ini dibantah olehnya langsung di sela-sela pembicaraan.

Telan saja, kami berdua memang sama-sama punya kecenderungan untuk jadi seorang yang pendiam.

Kemudian pengalaman juga mengajarkan bahwa ketertarikan akan selalu terefleksikan oleh interaksi-interaksi aktif dan menyenangkan dari dua belah pihak yang berinteraksi. Seperti berbicara melalui sambungan telepon berjam-jam tanpa sedikitpun merasa lelah atau bingung akan topik yang ingin dibicarakan, menonton film dan berdiskusi seru setelahnya, dan banyak lagi bentuk interaksi yang membentuk validasi bahwa ada hubungan emosional yang kuat di dalamnya.

Namun pengalaman jugalah yang mengajarkan bahwa bukan itu, bukan hanya chemistry yang dibutuhkan untuk memantapkan hati seseorang untuk menetap. Salah satu contohnya adalah ketika hubungan terasa begitu menyenangkan, penuh dengan chemistry, tapi di saat yang bersamaan kita tahu bahwa ada yang salah dengan hubungan tersebut, atau bahkan sebaliknya; it feels so right but we knows it’s so wrong.

Kadang kita ngga sadar bahwa ada banyak ketidakcocokan dalam sebuah hubungan karena kita terlalu fokus pada chemistry yang ada. Diperparah dengan bumbu romantisasi yang dibalut dengan petuah menyesatkan seperti: “wajar lah berantem-berantem namanya juga hubungan”, “wajar dia kasar atau marah kayak gitu ke kamu karena dia sayang sama kamu.”

Ternyata ada variabel lain yang sering dikesampingkan ketika kita membahas sebuah hubungan antar manusia yang sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan saya di paragraf-paragraf awal tadi, yaitu compatibility— kompatibilitas.

Bisa dibilang kompatibilitas adalah sebuah pondasi sekaligus perekat yang menjaga sebuah hubungan tetap utuh dan kuat. Kompatibilitas biasanya meliputi aspek-aspek gaya hidup, kebiasaan, kepercayaan, prioritas dan nilai-nilai kehidupan; atau yang saat ini lebih sering kita dengar sebagai mental model. Oleh karena itu sebuah hubungan yang compatible, biasanya akan lebih mudah dalam melewati dan mengambil keputusan-keputusan yang besar, mengingat kedua belah pihak sudah berada di satu sudut pandang yang sama.

Konsep kompatibilitas ini jugalah yang menurut saya diterapkan pada konsep taaruf; mengesampingkan chemistry dan mengutamakan compatibility. Karena chemistry bisa dibangun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin meningkatnya intensitas interaksi kedua belah pihak. Tidak salah kalau jargon yang diangkat oleh pelaku taaruf adalah pacaran setelah menikah alias membangun chemistry setelah menikah.

Tapi sebenarnya semuanya kembali lagi pada satu titik yang pasti yaitu takdir. Terlepas dari seberapa kuat chemistry dan compatibility yang ada— kalau memang bukan takdirnya, mau bagaimana lagi.

Leave a Reply