Thoughts
Leave a comment

On Marriage

Minggu lalu saya mendapatkan kabar bahagia dari seorang teman tentang dirinya yang akan segera mengakhiri masa lajangnya. Segera disini adalah dalam arti yang sebenarnya yaitu minggu depan. Cerita perjalanan menuju pernikahan seorang teman akan selalu menarik, terlebih teman saya ini adalah sosok yang sangat baik agamanya —dan dia menjalani apa yang disebut ta’aruf dalam menuju pernikahannya ini.

Seperti berita pernikahan yang sudah-sudah, saya selalu membuka jalur diskusi dengan, “what makes you tick? kenapa kamu bisa yakin bahwa ini saat yang tepat dan kenapa perempuan ini yang tepat?

“Ya when it feels right— dan ketika dengan orang ini, semuanya terasa dimudahkan”

Buat saya, topik mengenai pernikahan sebenarnya bukan hal yang bisa menjadi beban atau bahan pikiran. Tapi ketika usia sudah memasuki angka 25 seperti saat ini, dan ketika pandangan orang lain terhadap diri kita sudah berubah menjadi ‘sudah saatnya untuk menikah’, maka pernikahan bisa jadi topik yang lumayan bikin pusing.

Sejujurnya, pandangan saya mengenai pernikahan terus berubah seiring berjalannya waktu. Dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah, saya punya rencana untuk menikah setahun setelah saya lulus kuliah. Saat itu saya sempat berhitung, dengan gaji sekian dan waktu bekerja setahun, sepertinya akan cukup untuk memantapkan diri menuju ke sebuah pernikahan. Yang ternyata walaupun saat ini gaji sudah lebih dari sekian itu tadi dan waktu bekerja sudah lebih dari setahun, saya belum juga memilih untuk menikah. Karena memang menikah bukan cuma soal materi.

Lanjut ke bangku kuliah, saya kemudian berencana untuk menikah di tahun 2020. Sesimpel karena angka tahunnya bagus dan di tahun 2020, usia saya menginjak 27 tahun —sebuah angka yang menurut kepercayaan masyarakat Indonesia pada umumnya adalah usia pernikahan yang ideal. Untuk yang ini, entahlah.

Jadi, ketika di suatu acara keluarga ramai pertanyaan kapan Agung menikah, saya hanya akan tersenyum sambil berkata ‘belum tahu’ dan biarkan Mama yang melanjutkan sisanya; karena memang saya tidak tahu. Bisa jadi bulan depan, tahun depan, atau entah kapan. Sama halnya seperti kapan saya akan meninggal, belum ada yang tahu kapan pastinya.

Saya beruntung punya orang tua yang tidak menekan anaknya untuk segera menikah. Di keluarga saya, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang menjadi topik bahasan. Hanya baru-baru ini saja —ketika saya sempat kembali menjalin hubungan dengan seseorang— saya sedikit terbuka dengan Mama tentang hubungan saya dengan lawan jenis. Dan surprisingly, ternyata pernah ada cerita tentang Mama yang dulu memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan tunangannya karena merasa ‘it doesn’t feels right’.

Saya ingin menikah, tentu saja. Tapi bukan karena dikejar umur, diminta orang tua atau pacar, atau karena teman-teman saya sudah menikah semua. Saya akan menikah ketika saya merasa sudah siap lahir dan batin. Ketika saya merasa yakin dengan diri saya dan pasangan saya nanti—and everything feels right. Saya selalu yakin bahwa hidup ini tidak ada blue print-nya dan sebuah kesiapan seseorang tidak bisa disamakan satu sama lain. Ada yang sudah merasa yakin dan bertemu dengan jodohnya di usia 17 tahun, ada yang baru merasa siap untuk menikah di usia 25, 30 atau mungkin 40. Ngga ada waktu yang salah selama apa yang kita lakukan itu benar.

Pun saya paham bahwa menikah adalah bagian dari ibadah guna menyempurnakan agama, menghindarkan diri dari perbuatan zina, that’s totally right. Tapi kan kenyataanya tidak semudah itu. Pernikahan adalah pembuka pintu rezeki sekaligus pembuka pintu masalah baru. Ada banyak hal-hal ‘ngga enak’, tanggung jawab yang luar biasa besar dan problematika dalam rumah tangga yang jarang banget diangkat ketika mengkampanyekan pernikahan. Kebanyakan diangkat yang enak-enaknya aja. Jadi ngga aneh banyak pasangan yang menikah muda kemudian bercerai dalam waktu yang singkat —bahkan yang agamanya sudah sangat kuat sekalipun.

Buat saya, pernikahan adalah tentang mendengarkan satu sama lain. Maka pasangan yang ideal menurut saya adalah yang mau mendengarkan dan bisa mendengarkan, pun sebaliknya saya pun harus bisa mendengarkannya. Pernikahan juga tentang kesadaran, sadar bahwa pasangan punya kekurangan dan sadar bahwa diri kita pun punya banyak kekurangan. Maka sebuah hubungan yang baik adalah yang mampu saling menutupi kelemahan dan memaksimalkan kelebihan yang dimiliki.

Dan terakhir, buat saya pernikahan adalah soal kehadiran —lahir dan batin. Makanya kenapa dituntut kesiapan lahir dan batin sebelum pernikahan. Karena hubungan yang baik adalah ketika kedua orang ini hadir lahir dan batinnya, baik ketika ada masalah, ketika membuat keputusan, ketika mendidik anak dan sebagainya.

Jadi, sembari menyiapkan diri —let’s be content with who you are, find yourself from within and do things you love the most. Dan semoga setiap dari kita akan segera menemukan momen dan orang yang tepat untuk menemani hari-hari.

Semoga.

Leave a Reply