Perbendaan dan Pilihan dalam kesendirian

Judulnya lebay sih, tapi baiklah.

My favorite things aren’t things anymore. Ada tipe orang yang senang mengumpulkan barang-barang. Segala yang dia inginkan akan segera dibeli. Stress sedikit lari ke pusat perbelanjaan dengan dalih refreshing. Yang berlabel diskon pasti dibeli meski seringnya tidak terlalu butuh. Sejujurnya, saya pernah menjadi orang itu. Tapi ada masanya ketika kita sadar bahwa apa yang pernah kita lakukan itu sebenarnya kurang tepat menurut pribadi kita; tidak sejalan dengan value yang kita pegang, ngga cocok dengan visi kita kedepannya. Dan buat saya, saat itu adalah saat ketika saya mulai hidup sendirian.

Hidup sendirian means hidup jauh dari kerabat atau siapapun yang kita anggap dekat, tidak tergantung dengan siapapun, king of your own castle, tapi bukan berarti mengucilkan diri dari lingkungan. Kadang memang perlu sih kita duduk, hidup sendiri, untuk beberapa waktu yang lama. Dengan begitu kita akan punya banyak waktu untuk bicara dengan diri kita sendiri. Akan lebih banyak waktu untuk mengenal diri sendiri; untuk ngaca. Akan lebih banyak waktu untuk memaafkan, juga lebih banyak waktu untuk berpikir, menata hidup, dan berdiskusi dengan pikiran kita sendiri. Ah iya, bahkan lelaki paling mulia di dunia pun mendapatkan wahyu ketika sedang hidup menyendiri.

***

Kembali lagi ke kalimat paling awal tulisan ini, seperti kata Keynes dalam teori konsumsi-nya; tendensi untuk terus menjadi konsumtif itu semakin jadi ketika kita punya kemampuan untuk membelinya. Ini menakutkan buat saya, karena kita akan menjadi semacam manusia yang tidak pernah puas. Bukankah manusia memang begitu? Memang, tapi apa harus tetap begitu? Ibarat kata orang: terlahir dengan naluri konsumtif itu takdir manusia, tapi hidup konsumtif itu pilihan. Dan keputusan untuk memilih mau apa dan jadi apa itu tadi yang saya maksud sering muncul ketika kita sedang hidup sendirian, me time.

Apa yang saya pilih kemudian adalah mencoba memahami bahwa benda ya benda, fungsinya ya as-it-is aja. Membeli barang baru memang menyenangkan, diawal, semacam temporary happiness. Oleh karena itu kecenderungan-kecenderungan untuk membeli sebuah barang baru karena sedang trend, atau untuk menunjukkan pada orang bahwa saya ini, saya itu, sedang dicoba untuk dihentikan. Awalnya susah, tapi ternyata bisa, dan itu perlahan merubah semuanya menjadi lebih baik dan mudah.

baca buku

Klise sih, tapi belakangan saya merasa bahwa saya menjadi jauh lebih bahagia ketika saya menghabiskan uang dan waktu saya untuk sekedar berkumpul dengan sahabat dan teman terdekat, berbagi cerita. Atau ketika ada waktu senggang yang panjang yang bisa dipakai untuk membaca buku, atau sekedar makan diluar bersama keluarga. Atau yang paling menyenangkan, mengunjungi tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Atau mungkin sekedar bersepeda keliling kota.

Betul jadinya ketika ada yang bilang, things may last longer than experiences, but the memories that linger are what matter most. Iya, karena pada akhirnya barang-barang itu akan membuat kita bosan juga kan, dan mau bagaimanapun itu adalah sesuatu yang bukan dan tidak akan pernah menjadi bagian dari diri kita.

We are the accumulation of everything we’ve seen, the things we’ve done, and the places we’ve been. Experiences really are part of us, not things. 

Have a nice weekend!

Leave a Reply