Pertama

Namanya Aswita. Dari yang aku dengar dari salah seorang temanku yang juga temannya, kami berdua punya banyak kesamaan, entah bagian mana. Tapi yang jelas, aku suka nama itu, bahkan kadang tanpa sengaja aku kerap merapal namanya dalam hati tanpa maksud yang pasti sambil sesekali membayangkan orang seperti apa yang ada di balik nama ini.

Sebelum sempat bertemu secara langsung, aku lebih sering mendengar tentangnya dari cerita-cerita tentang lingkar pertemanan mereka. Pun sesekali potret dirinya muncul di laman instagram dari akun milik temanku tadi tanpa bisa aku telusuri lebih karna profil miliknya yang rapat terkunci.

Dan dari sekian banyak tempat menarik di Jakarta, aku selalu penasaran kenapa gerai Indomaret point di bilangan Karet Pedurenan yang menjadi tempat kali pertama kami bertemu. Tepatnya, di dalam mobil milik seorang teman yang juga temannya. Teman yang barusan aku sebut dan yang aku sebut di awal tadi adalah dua orang yang berbeda— Faris dan Acip. Barangkali tanpa mereka berdua, cerita ini tidak akan pernah ada.

“Kamu mau nonton JGTC ngga, Gung? Gantiin aku”

“Sama siapa?”

“Acip”

Aku mengiyakan.

Keesokan harinya, setelah menerima pesan dari Acip bahwa ia sudah tiba di Indomaret, aku berjalan menuju area parkir mobil yang berjarak 72 meter dari rumah kos. Dan tepat di meter ke 70 aku sadar ada yang Faris tidak katakan dengan jujur tentang rencana malam itu.

Akhirnya Aku memutuskan untuk tidak langsung masuk ke mobil dan memilih untuk lebih dulu masuk ke Indomaret setelah say-hi dengan Acip di kaca jendela depan dengan alasan membeli minum— meski yang sebenarnya terjadi adalah lebih banyak tarik nafas panjang dan berfikir keras harus bagaimana nanti bersikap sambil sesekali memastikan bahwa penampilanku malam itu tidak terlalu buruk untuk sebuah pertemuan pertama dengannya.

Jujur kemampuan basa-basiku agak payah, cenderung di bawah rata-rata. Tapi rasanya malam itu tidak terlalu buruk. Cukup terbantu dengan adanya Acip dan Linda yang sudah lebih dulu ku kenal. Beruntung mobil yang dikendarai Acip masih menganut posisi duduk konvensional yaitu menghadap ke depan semua. Seandainya posisi duduknya berhadapan seperti angkot Caheum-Ciroyom, adalah sebuah keniscayaan aku akan mati gaya.

Setelah berkenalan dan sangat sedikit basa-basi, aku langsung mengeluarkan ponsel dan minta penjelasan Faris tentang malam itu— Aku dijebak apa gimana, sih?

“Wkwkwk soalnya aku tau, kalau tak bilang ada yang lain kamu pasti ngga akan mau”

Alasannya valid. Maka jadilah malam itu, aku berusaha sewajar mungkin untuk berbaur meski seringnya merasa asing karna memang sudah seharusnya. Sepanjang perjalanan, perasaanku campur aduk. Mestinya ini mudah, toh mereka juga welcome dengan kehadiranku. Tapi dengan adanya puan yang duduk tepat di belakangku itu, semuanya jadi sedikit lebih rumit.

Singkatnya, adalah sebuah pencapaian buatku ketika malam itu bisa terlihat biasa saja di depan mereka, lebih tepatnya, di depan Aswita, meski sebenarnya tidak pernah biasa.

Dan seandainya ada nominasi untuk predikat perasaan paling tidak sopan di tahun 2017, maka sudah pasti pemenangnya adalah perasaanku malam itu. Bagaimana tidak— baru saling kenal ketika malam baru mulai, lalu minim interaksi, menatap wajahnya pun enggan; tapi berani-beraninya berharap untuk bisa lebih dari sekedar teman. Ada-ada saja.

Tapi kira-kira kapan ya kita bisa ketemu lagi, Swit?

Leave a Reply