pertemuan

masih diperjalanan, bahkan belum setengah perjalanan ketika temanmu, upik, memberitahuku bahwa kamu akan pergi liburan, dan pertemuan yang sudah ku tunggu-tunggu sejak entah kapan, terancam batal. harusnya kamu tau bagaimana perasaanku waktu itu, sangat kacau. karena semuanya akan berakhir tanpa hasil.

22 Januari 2012. Dibawah redupnya lampu aku melihatmu samar-samar. Berjalan menjauh lalu kemudian memandang ke arahku. Itu benar-benar kamu. Kemudian aku mendekat dengan senyum yang sedikit bergetar. Dan kamu entah sedang apa, mungkin malu, atau kaget? Sesekali kamu melihatku sambil tersenyum. Sepertinya kejutan dari teman-temanmu ini berhasil, ya.

kamu tau? aku sangat bahagia saat itu. seperti ada kembang api yang bermunculan dari balik punggungku. tapi aku gugup, It fells like i have butterflies in my tummy. sekilas aku memandang sekitar, aku merasa semua mata tertuju ke arah kita berdua. Mungkin mereka bertanya-tanya, ada reality show apa ini, ha. Beruntung ada adikmu yang bisa memecah kegugupanku. 

kemudian mereka —adik dan teman-temanmu— meninggalkan kita. sekarang hanya ada aku dan kamu, dengan mata-mata yang sepertinya masih tertuju pada kita berdua. tak banyak yang aku dan kamu bicarakan. kaku dan malu. sepertinya butuh waktu yang cukup lama untuk kembali ‘saling mengenal’ setelah setahun tidak bertemu.

kamu lebih banyak diam dan sibuk dengan gadgetmu sendiri. kemudian aku bingung dan timbul sedikit perasaan tidak enak. apa mungkin kamu tidak bahagia dengan kedatanganku?yang kemudian kamu balas dengan menggelengkan kepalamu.

kita memutuskan untuk menonton film karena memang tidak tahu apalagi yang harus dilakukan. dan selagi menunggu film dimulai, aku sangat sering berlama-lama memandangi wajahmu. Menurutku ini agak aneh, ketika aku bisa bertahan memandangimu dalam waktu yang sangat lama dan berkali-kali, padahal untuk memandang wajah teman perempuanku untuk sekedar mengobrol saja aku tidak betah berlama-lama.

sehabis shalat maghrib, aku, kamu, dan temanmu upik, pergi ke salah satu tempat makan di depan masjid al-akbar, dan itu kali pertama aku memboncengmu dengan sepeda motor. Lucu ya, setelah sekian lama, dari tahun 2007, baru di 2012 aku berhasil memboncengmu.

malam itu aku pulang duluan, meninggalkan kalian berdua. dan dikamar aku terdiam, harusnya aku senang, bahagia, dan semacamnya seperti ketika pertama melihatmu tadi siang. tapi kenapa justru rasa sesak yang ada. ada sesuatu yang salah sepertinya. beruntung kamu cepat menelponku untuk sekedar bertanya ‘kamu kenapa’. itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku sedikit tenang. terima kasih untuk hari ini, sayang :*

Leave a Reply