prosfams’2

image

Teruntuk keluarga kecil yang hangatnya tak pernah redup.

Ini adalah momen dimana jari ini tidak lagi bisa menahan rasa rindu akan hangatnya berkumpul bersama kalian. Sebuah keluarga yang dibentuk oleh rasa cinta dan prinsip kekeluargaan yang sama. 

Sejak awal aku mengenal entitas yang kemudian kusebut ‘kita’, yang masih berupa embrio itu, aku sudah merasa bahwa aku akan menjadi bagian dari kita. Tidak ada unsur paksaan dalam perjalanan kita, karena kita berpegang pada cinta yang sama. Meski aku sejujurnya tidak tahu apa yang sebenarnya kita cintai. Kebersamaan kah?

Profesionalisme, kata mereka, itu satu-satunya yang bisa membuat sebuah organisasi berjalan dengan begitu baik sehingga menimbulkan harmoni yang berdampak pada hijaunya indeks performansi. Bullshit, kataku. Lihat saja organisasi kalian, berjalan namun tak searah. Berjalan tanpa celah namun nyatanya kosong. Kebahagiaan yang kalian publikasikan terkesan dipaksakan, artificial. Ada satu yang lebih penting dari profesionalisme itu sendiri, yaitu kekeluargaan, menurutku. Karena akan selalu ada ketulusan dan keikhlasan dalam sebuah keluarga.

Belakangan banyak yang bertanya bagaimana caranya agar seperti kita. Bukan dengan menghindari perdebatan, bukan dengan menghindari perselisihan, karena menghindari bukan bagian dari solusi. Selesaikan saja, dan dengan menyelesaikan, itu artinya semua pihak dapat menerima sampai mereka lupa pernah berdebat keras. Terakhir, jangan pernah berusaha membentuk sebuah tim yang hebat, berusahalah membangun sebuah keluarga yang hangat. Bukan begitu, fams?

Teruntuk kalian kedua belas sahabat dan keluarga yang paling membanggakan; aku bahkan tidak ingin mengakhiri tulisan ini, apalagi cerita ini. Tapi mau tidak mau waktu akan mengambil kalian dari cerita ini untuk kemudian melanjutkan ceritanya masing-masing.

Terima kasih untuk satu-dua tahun yang mengesankan. Tidak bisa dipungkiri, bersama kalian adalah salah satu skenario terbaik selama empat tahun berkuliah di kampus Telkom.

Sampai bertemu di pulau Idaman, ya!

Leave a Reply