Respect

Beberapa waktu yang lalu, adik tingkat saya baru saja menyelesaikan ospek jurusannnya (sebenarnya, ospek fakultas). Dengan konsep yang (konon) agak berbeda dari tahun sebelumnya. Menurut saya sih, konsepnya sama, hanya caranya mungkin yang agak berbeda. Teriakan-teriakan senior tetep ada, hukuman-hukuman tetep ada, push-up tetep ada.

Dari setiap ospek yang sudah saya jalani mulai dari SMA, sampai yang terakhir ‘kena tampar’ kemarin, satu hal yang saya bisa ambil; senior selalu minta untuk dihormati. Mau dibungkus dengan bungkusan ‘melatih mental’ atau ‘kedisiplinan’ pun, yang kami dapat sebagai peserta adalah itu tadi: senior minta dihormati.

Salah? No. Tapi caranya yang menurut saya salah. Dengan membentak, memasang wajah seram, dan menghukum, saya rasa itu bukan jalan yang benar untuk mencapai kata ‘respect’. Membentak dan tindakan-tindakan intimidasi lainnya hanyalah salah satu eksekusi oleh ego dari hasrat-hasrat para senior yang mungkin tidak bisa disalurkan pada kegiatan-kegiatan di luar ospek. Bener?

Kapan lagi bisa bentak-bentak orang seenaknya?

Coba lihat dua orang terdekat kita, orang tua, apakah mereka membentak-bentak kita ketika kita lahir agar dihormati? No. Mereka menyayangi dan mencintai kita setulus-tulusnya hati. Get respect? yes.

There is no such thing as “Give some respect". Respect is earned, not because you are old or dead. Earn some respect.

Nope. Saya disini tidak akan menjelaskan how to earn some respect. Hanya mengingatkan, khususnya pada saya sendiri, bahwa respect is earned.

So, go earn it!

Leave a Reply