Satu

Barangkali kami berdua sama-sama tidak pernah menyangka bahwa pertemuan tidak terencana di festival musik jazz akhir tahun 2017 lalu adalah awal dari semua cerita tentang Agung dan Aswita. Pun saya menduga, dia tidak pernah berencana untuk menjalin hubungan dengan saya, lalu meresmikannya di awal tahun ini.

Bedanya, saya sudah merencanakannya. Sederhana sekali rencananya, sesederhana: “terkait pernikahan, semuanya akan berawal di 2018, kemudian jadian di 2019, setahun pacaran lalu menikah di 2020”. Hal yang sama dengan rencana-rencana lainnya, sederhana namun sering diulang dalam pikiran.

Sewaktu membangun rencana-rencana ini beberapa tahun yang lalu, saya sama sekali tidak berani merencanakan dan membayangkan dengan orang yang seperti apa sosok teman hidup itu nanti. Terlalu takut untuk meminta dan berharap lantas membiarkan urusan ini tetap menjadi urusan yang maha segalanya.

Dan ternyata, orangnya adalah dia. Sahabat dari teman sebangku sewaktu duduk di sekolah dasar 20 tahun yang lalu. Juga sahabat dari teman dekat saya di kantor dulu. Dan kalau ditelusuri lebih lagi, ada banyak relasi-relasi yang sebelumnya tidak pernah kami ketahui. Bahwa ternyata kami tidak ‘sejauh’ itu, semakin meyakinkan saya bahwa sebaik-baiknya skenario adalah skenario milikNya.

22 Februari 2019. Di sebuah kedai gelato di bilangan Jakarta selatan, dengan senyum gemetar dan muka yang memerah, saya memintanya untuk menjadi seorang kekasih. Narasi saya berputar hingga dia pun bertanya sebenarnya apa yang sedang saya coba katakan. Lantas saya mengatakannya perlahan-lahan untuk memastikan tidak ada yang salah, sambil terus berusaha mengaduk gelato yang mulai mencair. Sama sekali tidak romantis. Tapi senyum itu, senyum lebarnya malam itu, mengalahkan definisi romantis yang pernah saya tau. Agung dan Aswita— malam itu.

22 Februari 2020. Kali ini yang duduk dihadapan saya adalah Ayahnya. Sosok yang sudah mengenalnya sejak tangis pertama. Sosok yang memberikan siang dan malamnya untuknya. Sosok yang selalu mengupaskan kulit buah agar ia bisa dengan mudah memakannya. Kali ini saya memintanya, dengan kerendahan hati yang teramat sangat, untuk menikahi putri kesayangannya. Kali ini narasi saya tak lagi berputar. Dengan jabat tangan yang hangat dan debar jantung yang tidak karuan, saya mengucapkannya dengan tenang namun penuh keyakinan. Senyum di wajah keluarga, sahabat dan semua yang ada mendakan bahwa pagi itu, Agung dan Aswita— jadi satu.

Setelah ini, saya yakin tidak banyak hal yang berubah dari kami berdua. Saya pastikan, saya akan terus belajar tentangnya, pun saya harap sebaliknya. Dan tentu saja, belajar menjadi suami dan kepala keluarga yang baik agar saya jadi dan tetap menjadi ‘husband material’ untuknya.

Untuk Aswita— Bersiaplah untuk menempuh jalan yang panjang denganku, juga siapkan mata dan telingamu karena bisa saja tiba-tiba saya bermain kuis-kuisan dengan password yang tentu saja aku bikin sendiri, atau tiba-tiba menyanyi lagu apapun itu dengan nada dan lirik sesukaku. Semoga kamu akan selalu tertawa terhibur seperti saat aku menyanyikan lagu kasmaran-nya Pinkan Mambo, atau ketika aku tiba-tiba menyanyikan lagu Goyang Inul ditengah perjalanan pulang dari Setiabudi One.

Dan terakhir, semoga kamu tetap merasa cukup dengan adanya aku, dan selalu menjadikan aku tempat untuk pulang dan berkeluh kesah. Juga agar kita tetap menjadi orang yang selalu tersenyum saat menyambut satu sama lain meski seberat apapun hari yang sudah kita lewati.

Aku percaya kita akan membangun dan menjadi keluarga yang hebat.

2 thoughts on “Satu

Leave a Reply