Sebuah Tempat Untuk Menetap

Dari sekian banyak highlight yang terjadi di 2020, keputusan untuk membeli rumah di tahun ini adalah salah satu bagian paling menarik dalam catatan kami. Banyak sekali yang ingin diceritakan mulai dari proses pencarian hunian yang sesuai budget dan selera, survey lokasi rumah, urus-urusan dengan notaris dan bank, renovasi rumah, mengisi perabotan rumah, hingga akhirnya pindah untuk menetap.

Beberapa waktu sebelum menikah dengan Aswita, perihal tempat tinggal ini pernah saya angkat ke meja diskusi. Saat itu saya berpikir bahwa tinggal di apartemen 2 kamar tidur yang saya sewa dengan luas kurang dari 45m² di bilangan Jakarta Selatan sudah cukup untuk kami berdua, bahkan bertiga seandainya kami nanti punya seorang bayi. Aswita setuju, tapi dengan syarat: harus sudah pindah ke rumah tapak sebelum anak lahir. Saya setuju. Lagi pula, ngga akan langsung hamil juga kan setelah menikah?

Bedroom view dari Apartment

Tahun 2020 memang penuh kejutan. Tidak lama setelah kami menikah, pandemi covid-19 dimulai. Banyak hal yang belum pernah kami lakukan, mesti dilakukan saat itu. Salah satunya adalah bekerja dari rumah dan tidak kemana-mana.

Bekerja dari rumah itu merupakan satu hal. Tapi bekerja dari rumah dan tidak kemana-mana selama berbulan-bulan itu hal yang lain. Ditambah dengan adanya protokol kesehatan yang melarang kami untuk berdekatan dengan orang lain membuat kami jenuh sekaligus paranoid dengan lingkungan apartemen yang cenderung tertutup namun ramai.

Bagaimana tidak, berhari-hari kami seolah terkurung di ruangan berukuran kurang dari 45m². Bahkan untuk mendapatkan sinar matahari secara langsung atau sekedar menghirup udara segar di taman saja, kami harus memakai masker dulu, menunggu lift dulu, bertemu orang asing di dalam lift dulu, lalu berjalan keluar lobby. Seminggu-dua minggu pertama mungkin tidak masalah. Minggu-minggu selanjutnya kami mulai lelah.

Pertanyaan saya di akhir paragraf kedua tadi juga langsung terjawab sebulan setelah kami menikah: Aswita hamil. Sebuah berita yang membuat saya bahagia sekaligus cemas. Tentu saja karena pandemi ini belum terlihat ujungnya. Bagaimana caranya menjaga sebuah proses kehamilan dan melahirkan di era pandemi? Semua hal ini, sangat baru untuk kami berdua.

Hingga tiba di satu titik dimana saya sadar bahwa tinggal di hunian vertikal bukan lagi sebuah pilihan. Maka sejak bulan April saya mulai bergerak mencari-cari referensi tempat tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Modifikasi rumah

Salah satu riset yang saya lakukan adalah tentang waktu tempuh dari-dan-ke tempat kerja kami di Kuningan (Jakarta selatan), tentang resiko banjir dan juga fasilitas publik. Artikel medium yang ditulis dengan sangat baik oleh Mona tentang Jakarta Commute Time menjadi salah satu rujukan utama saya untuk menentukan daerah mana yang paling pas untuk ditinggali.

Hingga kemudian opsinya mengerucut ke tiga lokasi: Bekasi (Jatibening, Jatiasih dan sekitarnya), Jakarta Timur (Cipayung, Cilangkap dan sekitarnya), dan Tangerang Selatan (Ciputat, Pondok Aren dan BSD).

Bekasi kami coret karena merupakan daerah paling terdampak banjir di awal tahun kemarin. Pun dari segi kepadatan penduduk, bekasi sudah sangat padat sekali. Kemudian Jakarta timur pun kami coret karena opsi hunian yang terbatas. Dengan rentang budget yang kami miliki, beberapa developer properti menawarkan rumah di daerah Cipayung dan Cilangkap dengan tanah hanya seluas apartemen yang kami tempati.

Maka pilihan kami jatuh Kota Tangerang Selatan, sebuah kota yang baru saya pahami tentang ke-eksistensiannya setelah saya tinggal di Jakarta. Tangsel menjadi menarik karena banyaknya pilihan hunian baru. Rentang harganya pun masih sangat bervariasi tergantung dari luas tanah dan bangunan juga akses menuju lokasinya. Fasilitas publik yang sudah established berkat adanya BSD dan Bintaro Jaya, lokasinya yang terbilang dekat dari Jakarta Selatan, kemudian jalur KRL yang dedicated, rencana pembangunan MRT tahap II dan kemudahan akses tol membuat kami yakin untuk pindah dan menetap di Kota Tangerang Selatan.

Home Sweet Home

Dan, begitulah. Setelah sejak Juni 2015 saya tinggal di Jakarta Selatan, akhirnya November 2020 kemarin, saya, Aswita, juga Kirana, resmi jadi warga Kota Tangerang Selatan, menghuni rumah mungil yang sudah kami modifikasi sedikit agar sesuai dengan selera dan keinginan kami. Konsepnya simpel tapi harus nyaman mengingat rumah bukan lagi sekedar tempat beristirahat tapi juga tempat bermain, belajar dan bekerja.

Terima kasih Jakarta dan salam kenal Tangsel!

Leave a Reply