Setahun kerja, ngapain aja? (II)

Sebelum baca ini, ada baiknya baca “Setahun kerja, ngapain aja” bagian pertama.

Jadi di bulan kedua atau ketiga saya melakoni peran saya sebagai Apprentice, saya mulai merasa jenuh, lalu timbul pertanyaan “Masa kuliah susah-payah, kerjanya cuma gini doang sih?”. Semacam merasa di-sia-sia-kan, karena sebenarnya saya bisa melakukan lebih dari sekedar apa yang ditugaskan ke saya saat itu. Dilema first-jobber yaa, gitu.

Disana saya mulai pasang target, di bulan keenam (walaupun kemudian meleset dikit), saya harus sudah punya tempat baru yang kerjanya ngga “gini doang”. Sambil nunggu masa 6 bulan itu, saya mulai sibuk mengikuti online-course dan baca-baca buku, karena saat itu saya mulai takut otak saya tumpul karena rutinitas yang begitu-gitu saja. Nah, 2 poin terakhir di tulisan bagian pertama yang merupakan inisiatif saya itu juga bagian agar tidak terlalu jenuh sekaligus biar otak kanan tetap segar bigsmile

Alhamdulillah di bulan ke-9 saya punya tempat dan role baru yang kerjanya tidak “gini doang”. Sampai tulisan ini dibuat, saya sudah 6 bulan bermain-main dengan role yang baru ini, ngapain aja?

1. The powerpoint guy

Saya masih ingat, baru beberapa hari saya di-role yang baru ini, saya langsung ditugaskan untuk membuat semacam laporan dalam bentuk power point yang akan dipresentasikan kepada para Directors, PANIK!

Saya boleh berbangga kalau presentasi saya di kampus dulu bisa dikategorikan sebagai salah satu yang cukup baik, tapi presentation for business itu beda banget! Untungnya saya punya manager yang jago bikin presentation deck. Selera kita juga sama, minimalist-flat dengan warna cerah.

Sekitar sebulan-dua bulan saya selalu dituntun bikin power point slide, akhirnya sekarang saya bisa dilepas untuk membuat power point deck untuk laporan ke bos-bos besar diatas, yay!

Bahkan sampai sekarang saya masih menjadi default powerpoint guy-nya GM saya untuk laporan-laporan yang akan diberikan ke level VP maupun Director. Keuntungannya adalah tentu saja business acumen saya jadi lebih baik, dan yang paling penting: saya jadi tahu bagaimana cara berpikir para bos-bos perusahaan ini.

2. Photoshoot and Artist Management

Sekitar sebulan setelah bergabung, saya dapat sesuatu yang baru lagi: Mengkoordinir pemilihan model sekaligus sesi pemotretannya. Kebetulan saat itu sedang ada project yang membutuhkan gambar-gambar humanist, dan keputusannya adalah menggunakan karyawan kita sendiri; selain lebih hemat, dan karena karyawan disini kebanyakan muka artis semua, juga biar ada rasa memiliki antara karyawan dan produk ini nantinya.

Pertama, saya buka pendaftaran yang mana semua boleh daftar atau mendaftarkan temannya. Setelah itu saya cocokkan semua yang sudah terdaftar dengan karakter-karakter yang akan dibutuhkan di sesi pemotretan nanti. Misalnya karakter yang dibutuhkan adalah anak muda fashionista, ya saya cari tuh orang-orang yang kira-kira menggambarkan sosok anak muda fashionista. INI NGGA GAMPANG!

Tahap selanjutnya, diskusi dengan agency dan tim photographer mengenai lokasi dan jadwal pemotretan. Ini diskusi yang cukup pelik dan melelahkan. Baru setelah itu saya infokan kepada para talent yang terpilih tentang kapan, dimana, dan apa yang harus mereka siapkan. Dalam waktu yang sangat singkat, semuanya sudah harus siap.

Dan sehari sebelum hari pemotretan, saya ngga bisa tidur; sesederhana karena takut gagal, takut ngga lancar. Selain itu juga karena masih harus ada beberapa hal lagi yang harus saya persiapkan seperti mobil yang mengantar dan menjemput para talent, baik dari kantor maupun menuju kantor atau pulang ke rumah.

Pusing, deg-degan, tapi alhamdulillah lancar! Semua senang dan tenang, jadi bahagia banget heart

3. Growth Strategist

Ini memang job-desc saya sih, jadi kerjaan saya sehari-hari tentu saja berpikir bagaimana caranya agar digital-touchpoint yang tim saya tangani ini bisa terus berkembang, baik dari jumlah pengguna maupun revenue.

Mulai dari mengumpulkan data, analisis data, baru setelah dapat insight dari data yang ada, kita mulai bangun strategi yang akan dijalankan; targetnya siapa, media channel-nya apa, angle dan wording-nya gimana, dan banyak lagi. Selalu bermain dengan data dan melakukan eksperimen.

Rumit memang, kadang sampai lelah banget sepulang dari kantor kayak abis ngangkat beban berat seharian, padahal cuma duduk depan laptop.

data everywhere
data everywhere

Serunya adalah hasil kerja dan berpikir yang sering bikin capek ini bisa kelihatan langsung gitu impact-nya. Misalnya dalam minggu kedua-ketiga saya mau eksperimen dengan strategi A, setelah dieksekusi ternyata ada peningkatan revenue 30% atau pengguna baru 40%, itu kan.. BAHAGIA BANGET!

4.  Campaign execution and monitoring

Masih bagian dari Growth strategist tadi sih; flownya adalah setelah strategi siap, baru kita eksekusi. Nah, meski bukan saya yang eksekusi, tapi tim atau bahkan divisi lain, tapi tetap saya yang mengkoordinir dan memonitor, memastikan semuanya berjalan sesuai strategi yang sudah kita bangun. Kadang kalau lagi heavy-load, pusing juga, banyak yang kelewat karena saking banyaknya yang harus diurus.

***

Lebih sedikit list-nya dibanding bagian pertama, tapi jauh lebih melelahkan dan menantang di posisi ini. Serius.

Sebenarnya ada beberapa hal lagi yang saya kerjaan, tapi bukan yang utama sih, seperti mengikuti scrum meeting, mempersiapkan material campaign dengan tim kreatif maupun tim agency, dan sebagainya.

Kreatifitas dan kemampuan analisis saya betul-betul dipakai dan diuji setiap hari. Untungnyaa, saya dikelilingi dengan rekan-rekan dan leaders yang baik, menyenangkan, dan supportive; jadi ngga kerasa berat-berat amat bigsmile

Jadi itulah “mainan” saya selama satu tahun kebelakang di salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia sebagai fresh graduate, tahun kedua seperti apa ya?

 

 

 

3 Replies

Leave a Reply