setahun kerja, ngapain aja?

Setahun kerja, ngapain aja?

Satu-dua tahun yang lalu saat masih kuliah, rasanya ingin sekali cepet lulus. Ingin cepat masuk ke dunia kerja meski sebenarnya was-was juga penasaran: sebenarnya kerja itu ngapain aja sih? Takut ngga bisa, takut terlihat bodoh, takut dimarahi bos kayak di film-film, takut kena pecat, dan sebagainya. Tapi ternyata, bekerja tidak semenyeramkan itu. Bahkan cenderung seru dan menyenangkan. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Sejak awal kuliah saya memang sudah punya target akan masuk di perusahaan yang seperti apa; culture-nya, industrinya. Meski pada akhirnya tentu saja target itu akan berubah seiring waktu. Tapi faktanya masih banyak teman-teman yang ketika sudah di tahun terakhir, atau bahkan sudah lulus sarjana masih bingung mau kemana dan cenderung mengikuti kata orang; gimana nanti, deh. Tidak ada yang salah memang dengan “gimana nanti”, tapi… itu ngga seru —menurut saya.

Skip.

Kali ini saya akan flashback kira-kira setahun kebelakang apa saja yang saya kerjakan di kantor sebagai fresh graduate. Apakah sesuai ekspektasi saya ketika kuliah dulu? Atau malah banyak gabut-nya seperti apa yang saya amati di perusahaan tempat saya kerja praktek dua tahun lalu? tongue

1. Device testing, Service Quality Control

Yang pertama adalah device testing atau device QA/QC. Jadi ceritanya, produsen smartphone yang akan merilis produknya di Indonesia, akan mengirimkan beberapa perangkat smartphone-nya untuk diuji atau dites. Dan yang bertugas untuk melakukan pengujiannya adalah tim Device and Performance Management, tempat saya ditugaskan.

Menurut saya pekerjaannya sangat mudah. Intinya kita melakukan pengujian dengan mengikuti standard yang sudah ditentukan. Semuanya diuji, mulai dari fitur paling dasar sampai performa paling maksimal. Sebenarnya yang paling penting adalah fungsi network-nya itu sendiri karena apalah arti smartphone super keren kalau susah dihubungi, suara tidak jelas, dan susah terhubung ke internet (?)

Terasa mudah karena memang sejak SMP saya sudah terbiasa ngoprek berbagai jenis handphone, bahkan saat itu saya berlangganan tabloid pulsa dan jadi konsultan tiap ada teman yang mau beli handphone baru HAHA. Selain itu juga karena diluar skenario khusus, cara pengujiannya adalah kita gunakan sebagaimana kita menggunakan smartphone pribadi. Itu artinya, smartphone yang kita uji harus dijadikan handphone utama kita selama beberapa hari untuk mengetahui experience dari smartphone tersebut.

2. Network testing, Service Quality Control (ad-hoc – support)

Tidak jarang saya juga ditugaskan untuk melakukan support ketika ada troubleshooting atau aktivitas network testing. Ini cukup memusingkan buat saya karena berkali-kali diundang untuk meeting dengan tim radio network yang kebanyakan istilah dan bahasan-nya tidak saya pahami.

Tapi balik lagi ke role saya sebagai device expert (sebutan untuk member tim Device), role saya cukup sebagai pendukung dari sisi device, mulai dari penyediaan sesuai spesifikasi yang dibutuhkan, sampai konfigurasi di sisi device.

3. Internal audit and User satisfaction survey, Service Quality Control

Nah, sebagai divisi Service Quality Control, kami punya banyak sekali user baik internal maupun eksternal. User disini adalah tim atau divisi yang menggunakan jasa divisi kami tentunya. Agar kami tahu sisi mana yang kurang dan perlu diperbaiki, maka dibuatlah user satisfaction survey setiap 6 bulan. Dan tentu saja, saya ditunjuk untuk membuat platform survey-nya.

Sebenarnya platform periode sebelumnya masih ada, tapi kekurangannya adalah platform tersebut tidak bisa diakses dari smartphone. Dari sana saya melakukan sedikit riset untuk menentukan platform terbaik, setelah disetujui manager, saya lanjutkan development-nya. Paralel saya juga berdiskusi terkait scoring, metode perhitungannya, sekaligus penentuan topik survey dengan leader dan manager. Setelah proses development selesai, survey tersebut dipublikasikan kepada para user, dan pekerjaan saya selanjutnya adalah merekap hasil survey, melakukan perhitungan dan melakukan analisa dari hasil survey tersebut. Ngga cuma sampai disana, selanjutnya saya harus bikin slide presentasi terkait hasil survey untuk kemudian dipresentasikan di leads meeting.

3. Technology update for Customer Service, Service Quality Control

Ini salah satu bukti ke-ambivert-an saya. Pada dasarnya saya adalah seorang introvert, dan seperti kebanyakan manusia introvert, ada banyak sekali hal yang berputar-putar di dalam pikiran. Kebanyakan, hanya akan didiamkan saja, atau mentok-mentok tulis di blog. Saya, kebalikannya, sangat ingin membagikan segala hal yang terlintas dipikiran kepada banyak orang secara langsung. Itu alasannya kenapa kalau sudah ketemu lawan bicara yang cocok, saya ngga bisa berhenti ngoceh panjang lebar tentang apapun.

Nah, tim Device sebagai early adopter, berkewajiban untuk memberikan technology update kepada teman-teman CS (Customer Service). Seru! Walaupun kemampuan public speaking saya masih pas-pasan, tapi sesi sharing ini selalu menyenangkan. Tapi dari sini saya jadi paham sih, gimana perasaan guru-guru dan dosen ketika sebuah materi baru saja disampaikan 20 menit lalu, tapi ketika murid ditanya tentang materi itu pada bengong ngga bisa jawab, KZL BGT!

4. Technology update for Internal, Service Quality Control

Ini mirip-mirip sama yang tadi, bedanya technology update ini berbentuk artikel. Ini inisiatif saya yang kemudian disetujui oleh GM dan manager saya. Alasannya sih karena saya suka kesel, berdasarkan pengamatan saya masih banyak karyawan disini gaptek alias gagap teknologi. Maksudnya sih biar yang gaptek jadi ngga terlalu gaptek, masa kerja di perusahaan digital tapi gaptek?

Selain itu motifnya adalah karena dari dulu punya cita-cita punya website atau majalah tentang teknologi, atau minimal jadi kontributornya, lah. Makanya saya berinisiatif untuk bikin Techno-update ini, tapi ternyata susah ya HAHA sering kehabisan ide untuk konten cry

5. Youtube channel, Service Quality Control

Lagi-lagi ini inisiatif saya. Karena melihat banyak device dan smartphone yang berceceran begitu aja ngga dimanfaatin, jadi mending dibuat videonya, entah itu tips and trick atau unboxing ketika device itu baru datang.

Sama seperti Techno-update tadi, Youtube channel ini mulai dari pemilihan topik, pengambilan gambar sampai editing semua saya yang ngerjain, sendirian. Sempat agak kesel sih karena ketika saya mengeluarkan inisiatif ini dan itu, banyak yang ngga mau dilibatkan karena merasa pekerjaannya akan bertambah. EH TERNYATA ketika youtube channel ini sudah mulai banyak disorot, mulai deh ngaku-ngaku ikut terlibat.

***

Baru lima dan ternyata sudah kepanjangan HAHA baiklah akan dilanjutkan di part kedua, ya. Jadi lima poin diatas kurang lebih adalah gambaran dari pekerjaan saya selama 9 bulan pertama ketika status saya masih Apprentice. See ya!

(lanjut ke Setahun kerja, Ngapain aja (II))

Comments 4

  1. Pingback: Setahun kerja, ngapain aja? (II) – Thursday Talk

  2. Pingback: Setahun kerja, ngapain aja? (II) – mind-wanderer

  3. Pingback: XL Apprentice – mind-wanderer

Leave a Reply