jakarta

Takut Tidak Takut

Kamis kemarin, ketika sebuah serangan teroris terjadi di Sarinah, saya sedang berada di kantor di daerah Kuningan, Jakarta selatan. Dalam pikiran saya, kebanyakan orang akan takut ketika terjadi serangan teroris di kota tempat dia tinggal. Dan saya, adalah kebanyakan orang itu. Jelas bohong, kalau saya bilang tidak takut. Itu juga yang menjadi penyebab kenapa tidak ada satupun tagar #KamiTidakTakut yang muncul di akun media sosial milik saya, justru “Asli Gue takut :|” yang muncul sebagai respon atas ledakan dan aksi saling tembak yang terjadi di Sarinah.

Tapi itu cuma sebentar, karena dalam waktu yang singkat, Saya justru dikagetkan dengan bagaimana orang Jakarta merespon serangan tersebut. Timeline twitter mulai banjir tagar #KamiTidakTakut. Dan saat itu juga Saya merasa telah melakukan hal yang paling cemen di dunia maya dengan mengakui bahwa Saya ketakutan ketika yang lain dengan beraninya mengklaim bahwa mereka tidak takut. Bahkan saya sempat ingin menangis (iya, cengeng), bukan karena ledakan yang terjadi 5 kilometer dari posisi saya saat itu, bukan. Tapi lebih karena saya merasa lemah diantara orang-orang yang katanya tidak takut ini dan saya bingung harus bagaimana.

*fyi, suasana kantor mendadak agak chaos saat itu dengan security yang langsung menetapkan status siaga, mengingat kantor ini berada di kawasan antar bangsa dimana banyak kedutaan besar dan perkantoran di sekitar kantor yang rawan menjadi target aksi terorisme.

Saya kemudian berpikir tentang bagaimana seharusnya saya menyikapi ini. Melihat rekan-rekan saya yang terlihat tenang —bahkan cenderung tidak peduli—, yang masih sempat melempar canda tentang ini, padahal hei! Aksi teroris itu masih berlangsung di Sarinah sana! Saya sempat berpikir mungkin saya yang terlalu lebay karena ini adalah kali pertama saya mengalami kejadian seperti ini, atau mungkin hidup di jakarta memang sangat keras sampai masyarakatnya tidak punya rasa takut lagi. Di siang yang tidak biasa itu, saya kehilangan nafsu makan dan melewatkan jam makan siang di pantry hanya dengan segelas pop mie.

Saya takut, dan saya rasa itu adalah reaksi paling normal yang dialami oleh seseorang ketika kota tempat tinggalnya dilukai oleh aksi terorisme. Saya takut serangan itu meluas, ditambah berita yang beredar begitu cepat saat itu bahwa pelakunya melarikan diri dengan kendaraan roda dua sambil melakukan penembakan secara membabi buta. Juga berita soal ledakan yang juga terjadi di beberapa titik, salah satunya di Kuningan; thank God those were just hoaxes. Kedua, Saya takut akan semakin banyak nyawa yang hilang, karena dengan begitu akan semakin banyak anak yang kehilangan bapak-ibunya, atau istri yang kehilangan suaminya, orang tua yang kehilangan anaknya; menyoal keluarga, it will always makes me sad. Terakhir, dan yang menurut saya paling penting adalah saya takut nantinya saya akan takut untuk tinggal di Jakarta.

Menjelang sore rasa takut yang saya rasa mulai reda. Tidak ada lagi pikiran aneh seiring dengan pihak kepolisian yang mulai memberikan klarifikasi. Dan saya mulai setuju bahwa kita tidak seharusnya takut, karena seperti kata banyak orang, terorisme memang bertujuan untuk menebar ketakutan, bukan?

Kemudian di dunia maya, orang-orang semakin ramai menebar humor dan cerita heroik soal betapa hebatnya tukang sate, pedagang asongan, polisi tampan nan modis, dan betapa payahnya pelaku teroris siang tadi. Saya sempat menikmati itu, tapi lama-lama saya merasa semuanya menjadi keterlaluan. Karena balik lagi, ada nyawa yang hilang disana. Bayangkan kalau ada keluarga kita yang jadi korban disana.

Saya mulai takut bahwa reaksi warga Jakarta (dan Indonesia yang ikut meramaikan) kemarin, justru bukan sebuah bentuk keberanian yang sebenar-benarnya. Melainkan sebuah pembuktian bahwa masyarakat Indonesia telah salah menempatkan terorisme dalam tatanan kehidupan mereka, entah bagaimana. Mungkin bagi mereka, aksi terorisme sekedar event internasional yang membuat mereka ingin melakukan selfie di depannya. Dan menurut logika saya, ada yang salah dengan ini. Oh, atau mungkin cuma saya yang terlalu lebay dan seharusnya cukup ikut menertawakan betapa payahnya teroris siang tadi, sambil berduka secukupnya?

Leave a Reply