Tentang Bandung, Jakarta, dan Ridwan Kamil

Saya ingat betapa Pak jokowi bisa begitu melesat namanya beberapa tahun lalu karena gaya pendekatan yang dilakukan pak Jokowi yang biasa disebut dengan blusukan, impromptu visit. Erdogan, di Turki juga ternyata suka blusukan, begitu juga dengan bu Risma di Surabaya dan pemimpin-pemimpin yang konon, ‘masa kini’ banget. Pemimpin yang tidak melangit, namun membumi.

Ridwan Kamil, wali kota Bandung, juga melakukan hal yang sama. Namun bedanya, yang mungkin disebabkan oleh usianya yang relatif masih muda, dan paham akan budaya masyarakat saat ini, beliau lebih sering berinteraksi dengan warganya melalui media sosial. Kadang saya bingung, gimana cara kang emil bisa begitu aktifnya di sosial media, ya?

pertanyaan ridwan kamil

Terakhir, beliau bertanya tentang apakah perlu beliau ke Jakarta untuk berjuang menjadi DKI 1, melalui akun facebooknya, dan menurut saya apa yang kang emil lakukan itu keren sih, bener-bener menghilangkan jarak dan waktu antara wali kota dengan warganya, membuka lebar-lebar pintu aspirasi warganya. Tidak butuh waktu lama, ribuan komentar masuk. Dan meski terpecah menjadi dua, dari apa yang saya lihat, kecenderungan ada pada penolakan dan permohonan agar kang Emil tetap menyelesaikan tugasnya di Bandung.

Sebagai warga Bandung, yang juga tinggal di Jakarta sebagai pendatang, saya juga menginginkan Kang Emil untuk tetap menjadi wali kota di Bandung, paling tidak sampai masa jabatannya habis.

Kang emil mungkin bisa memperbaiki Bandung, karena ada keinginan dari warga Bandung-nya sendiri untuk berkolaborasi dengan Kang Emil. Dan sebenarnya kalau boleh saya bilang, kang Emil belum benar-benar berhasil loh, dalam memperbaiki kota Bandung. Di Jakarta, seberapa banyak sih warga atau penduduk aslinya? Mayoritas orang di Jakarta adalah pendatang seperti saya, yang mengadu nasibnya di Kota Jakarta. Tapi kebanyakan lagi dari pendatang ini bukannya mengadu nasib, tapi mengadu nyali, yang ujung-ujungnya bikin Jakarta makin semerawut.

Jakarta berbeda dengan Bandung. Ketika warga bandung berbondong-bondong membantu kang Emil karena kecintaan dan rasa memiliki yang sangat tinggi pada kotanya, warga Jakarta justru sibuk untuk bertahan hidup, berdesakan dari langit masih gelap sampai langit kembali gelap, terus berjuang agar perut tetap terisi, ngga ada lagi waktu untuk merasa memiliki. Di Jakarta, semua orang sibuk sendiri.

source : rmoljakarta.com

Bukan saya meragukan kemampuan kang Emil, tapi cara dan gaya kepemimpinan kang Emil memang lebih cocok untuk kota Bandung. Dan Jakarta, menurut saya, sudah sangat cocok dipegang oleh seorang pak Ahok. Untuk saat ini, saya masih berpikiran mungkin cuma pak Ahok yang bisa merubah Jakarta menjadi lebih baik.

Lagi pula saya setuju bahwa pemimpin-pemimpin seperti kang Emil, bu Risma, dan pak Ahok memang sudah seharusnya tersebar di seluruh Indonesia, bukan hanya diadu di Jakarta saja. Karena membangun Indonesia tidak bisa jika hanya dilakukan di Jakarta, kan?

Update 29/02/2016 : Kang Ridwan Kamil tidak akan terjun pada pilkada DKI Jakarta 2017 dan tetap melanjutkan tugasnya sebagai wali kota bandung sampai 2018.

Leave a Reply