Tentang (ehem..) Marketing

Sebenarnya judul yang tepat adalah tentang berjualan. Namun agar terlihat sedikit lebih keren, maka Tentang Marketing-lah yang saya pilih. Ini bukan tentang suatu bab di mata kuliah Manajemen Pemasaran sore tadi, bukan juga sebuah judul buku motivasi bisnis. Ini tentang pengalaman saya selama 3 hari menjadi seorang Sales dan Marketer. Dimana ini adalah pengalaman pertama saya.

Selama menjadi mahasiswa, saya belum pernah mengikuti satu pun kepanitiaan. Saya takut berjualan. Sudah bukan hal yang aneh kalau di kampus saya banyak sekali mahasiswa yang menenteng kotak penuh gorengan atau donat. Ada yang memang untuk menambah uang jajan, namun kebanyakan adalah mereka para pengumpul dana untuk sebuah acara. Bahkan dikelas, bisa terdapat lebih dari empat kotak makanan dalam sehari. Dan bila tidak habis terjual, si penjual yang harus membayar sisanya. Menyakitkan.

Saya takut berjualan, lalu mendadak dijadikan seorang sales marketing di sebuah acara besar, launching Windows 8 di Bandung, Trans Studio Mall. Tiga hari itu, saya mengamini pepatah “Awalnya dipaksa, lalu terpaksa, lama-lama biasa, lalu bisa”. 

Sewaktu SMA, saya pernah menjabat sebagai ketua pelaksana sebuah event terbesar kedua di SMA saya waktu itu. Sebagai ketua, saya melakukan apapun yang saya bisa. Dan kebetulan, panitia-panitia yang lain sangat tidak bisa diandalkan. Hanya ada empat-lima-enam panitia yang benar-benar loyal. Dengan sumber daya minimal, saya dituntut oleh guru saya untuk menciptakan sebuah event yang luar biasa. Maka mau tidak mau, saya harus bekerja keras, dengan teman-teman yang seadanya, termasuk dana usaha. Namun tetap, saya tidak ikut berjualan. Tapi saya adalah ujung tombak ketika kami bernegosiasi dengan calon sponsor, yaitu perusahaan. Diskusi di ruang meeting XL dimana saya sendirian dikelilingi para bos-bos XL, saling nego, saya yang melakukannya. Diskusi di kantor speedy, bertemu dengan salah seorang manager, saya lakukan, bahkan saya datang ke rumah salah satu managernya. Dan alhamdulillah, event luar biasa itu benar tercipta.

Hanya itu pengalaman saya dalam hal marketing. Itupun tidak bisa dikatakan marketing, itu hanya.. negoisasi ditambah sedikit kepemimpinan.

16, 17, dan 18 November 2012. Saya ditugaskan untuk benar-benar ber-marketing ria, berjualan. Menghadapi berbagai tipe konsumen. Melayani berbagai keluhan. Memberikan solusi atas berbagai pertanyaan. Beruntung saya menikmatinya, saya melakukannya dengan hati. Ada banyak sales dan marketer lain disana, tapi kebanyakan, bukan hati yang mereka pakai, tapi otak. Orientasi mereka adalah uang. Sedangkan saya, saya tidak dituntut apa-apa oleh pihak Microsoft. Saya hanya dituntut untuk mengenalkan produk dan promo. Dan karena kebetulan saya sangat menyukai teknologi, maka saya menikmatinya, saya menjalankannya dengan hati.

Hari pertama memang saya masih malu-malu. Masih bingung. Saya masih segan-segan menghampiri dan menjelaskan kepada konsumen yang datang ke booth microsoft. Hari pertama siang hari, saya mulai berani, sore, saya mulai luwes. Ternyata ini menyenangkan. Hari kedua-ketiga, saya makin lihai. Diskusi panjang dengan berbagai konsumen. Bahkan ada yang memberikan saya ‘tip’ tapi saya tolak. Beberapa konsumen terlihat nyaman berdiskusi panjang lebar dengan saya, bahkan kami tertawa bersama. Saya senang melihat kenyataan bahwa mereka nyaman dengan saya. Tak jarang beberapa konsumen adalah mahasiswa dari kampus lain, ada juga calon Microsoft Student Partner, ada juga bos dari sebuah perusahaan sesuatu, ada juga developer windows, dan macam-macam. Dari tiga hari saya bekerja disana, sudah seperti berkeliling bandung rasanya.

Nah, dari yang saya amati, hanya saya seorang yang diberikan orang ‘tip’ di event tersebut. Mungkin karena itu tadi, saya pakai hati, saya melayani bapak-bapak seakan saya melayani ayah saya. Saya melayani ibu-ibu seakan saya melayani mama saya. Saya melayani yang seumuran, saya seakan-akan saya melayani diri saya sendiri. Sering saya merasa jengkel dengan beberapa sales atau spg di suatu acara, maka saya tidak ingin orang tersebut merasakan hal yang sama dengan saya bila berhadapan dengan saya. Saya ingin mereka bahagia. Saya hanya ingin, mereka puas setelah keluar dari event ini.

Dan alhamdulillah, tiga hari berjalan lancar. Pengalaman saya bertambah. Kepercayaan diri saya meningkat. Belajar memang tidak harus berada di kampus dan ternyata, pengalaman memang guru yang terbaik :)

Leave a Reply