Masih Tentang Kecemasan

Dari sekian banyak alasan yang ada untuk membuat seseorang cemas atau bahkan stress, saya tertarik dengan salah satu alasan yang dikemukakan oleh Alain de Botton. Menurutnya, salah satu alasan yang paling relevan di era ini adalah melimpahnya peluang untuk sukses.

Suka atau tidak, saat ini kita sedang hidup di era yang penuh dengan kecemasan. Terutama orang-orang yang hidup di kota besar yang serba cepat dan penuh persaingan. Semuanya tegang, gelisah. Sampai muncul sebuah retorik yang menjadi jargon anak muda ibu kota— Apasih yang dicari?

Mayoritas masyarakat saat ini percaya bahwa kesuksesan adalah milik siapapun. Mulai dari anak petani, mereka yang tidak lulus sekolah, sarjana, sampai ibu rumah tangga. Literally anyone. Apapun definisi suksesnya; bisa jadi founder startup, influencer, politisi, online seller dan banyak lagi. Berkat akses seluas-luasnya kepada platform yang saling terkoneksi, siapapun bisa berkarya, menyebarkan karyanya dan meraih suksenya dari sana.

Bahkan sehari-hari, kita tenggelam dalam berbagai kisah rakyat biasa yang akhirnya menjadi sangat sukses. Larry Page dan Sergei Brin dari garasi doang jadi punya Google. Mark Zuckerberg dari ngulik internet di asrama kampusnya jadi kaya raya dengan Facebook. Si A yang sekarang punya mobil eropa karena jadi pilot. Si B yang berhasil jadi founder startup unicorn. Si C yang padahal kerjaannya gitu-gitu aja tapi punya jutaan subscriber di YouTube. Si D yang rajin posting di media sosial padahal yaa biasa aja tiba-tiba jadi influencer. Kan jadi cemas.

Dulu, orang hebat lahir dari keluarga yang hebat juga. Entah raja atau penguasa. Dari penampilanpun bisa dilihat bahwa dia orang hebat— ya kain sutra lah, emas lah, bulu angsa lah. Masyarakat biasa tentu saja ngga akan pernah cemas atau cemburu dengan mereka-mereka itu, karena merasa bahwa takdir raja atau pangeran dan penguasa-penguasa itu ya memang begitu dan ngga mungkin kekejar oleh rakyat biasa. Kalaupun mau ngejar juga pasti terhambat birokrasi atau diskriminasi oleh koloni penguasa.

Tapi coba lihat orang hebat sekarang. Larry page, Mark Zuckerberg, Steve Jobs— penampilannya sama aja kaya kita rakyat biasa; kaos dan celana jeans. Jokowi pun sering cuma pakai kemeja polos dengan lengan digulung dan sepatu sneakers lokal. Mereka juga ngga terlahir dari keluarga yang gimana-gimana. Sehingga pesan yang sampai ke kita adalah “Mereka rakyat biasa juga kok. Sama seperti kita.”

Dari sini semuanya berawal. Pesan yang sampai ke kita tadi seringnya akan menimbulkan respon “Gue juga sama seperti dia— orang biasa, kuliah jurusan yang sama, umur juga sama, tapi mana Google punya gue? Gojek gue? Tokopedia gue? Titel ‘Head of’ atau ‘Manager’ gue? Kenapa mereka udah sukses dan gue ngga?”

Nah menurut Alain de botton, ternyata banyaknya peluang, kesempatan, serta berbagai kisah sukses ngga selalu berbuah inspirasi, tapi juga bisa berbuah kebingungan dan kegelisahan. Anxiety.

“Bisa kok asalkan kita berusaha keras, asalkan giat” dan slogan-slogan meritokrasi lainnya seperti “Anyone can be anything” atau “You determine your own success” juga secara ngga langsung berpengaruh terhadap kecemasan itu tadi. Karena kalau dibalik, konsepnya akan seperti ini: kalau kita ngga sukses atau gagal berarti ya itu murni hasil kebodohan dan kemalasan kita sendiri.

Sekarang, kita ngga lagi bisa menyalahkan keberuntungan, birokrasi atau diskriminasi seperti di era yang lalu, karena setiap orang diharapkan bertanggungjawab atas nasibnya sendiri, “kesuksesan ada di tanganmu sendiri”. Yang kemudian secara sadar atau tidak, kita jadi sangat terbebani untuk sukses, karena kita jadi meyakini bahwa kalau kita ngga sukses, berarti kita malas, bego, dan sebagainya.

Maka menurut Alain de Botton, inilah mengapa tingkat bunuh diri meningkat secara global, khususnya di negara-negara meritokratik.

Jadi penasaran, sebenarnya sukses itu tujuan atau proses sih?

Leave a Reply