Tentang Memilih Kamera (II)

Setelah melalui proses pencarian selama beberapa minggu, akhirnya pilihan saya jatuh pada Fujifilm X70; sebuah kamera yang justru tidak pernah masuk dalam daftar kamera untuk dipertimbangkan sebelumnya. Bahkan salah seorang teman sempat merespon dengan “Gue ngga nyangka akhirnya lo beli kamera ini, Gung, kayak bukan lo banget..” yang kemudian saya respon dengan tawa —“Justru gue rasa, ini kamera gue banget.”

Bahwa kita harus mengenal diri sendiri dulu sebelum orang lain itu benar adanya. Dalam kasus memilih kamera, ketika kita mengenali siapa dan apa yang akan kita lakukan dengan si kamera, dan mampu berdamai dengan ambisi, semuanya jadi lebih mudah. Bukan karena teman atau bisikan penjaga toko kamera —saran tentu ditampung, tapi keputusan tetap ada di tangan si calon pengguna kamera, kan?

Awal tahun lalu ambisi saya masih penuh dengan berbagai atribut. Nyaris semua teknologi terkini berlabel mandatory di kepala saya: resolusi 4K, layar sentuh yang bisa diputar, 5-axis stabilization dan tentu saja interchangable lens agar bisa diganti dengan lensa-lensa mevvah kedepannya.

Akhir pekan lalu setelah berkeliling dan mencoba kamera-kamera itu, anehnya justru saya semakin bingung bukannya semakin mantap pada satu pilihan. Yang kemudian saya sadar bahwa ada yang salah dengan ini semua —mungkin karena bukan atribut itu yang benar-benar saya butuhkan.

Kalau kata orang sih, kontemplasi. Itu yang saya lakukan setelah beberapa jam berkeliling di pusat perbelanjaan elektronik di kota Bandung. Dan hasilnya saya mantap untuk menjadikan Fujifilm X70 sebagai partner untuk beberapa tahun kedepan.

Tidak ada spesifikasi mewah di dalamnya; tidak mendukung resolusi 4K, tidak ada 5-axis stabilization, bahkan lensanya pun tidak bisa dilepas. Bicara soal fokus, Fujifilm X70 adalah yang paling lambat diantara kandidat lainnya yaitu Lumix GX85 dan Olympus OM-D10 mark 2. Di atas kertas, boleh dibilang Fujifilm X70 kalah telak dibanding lawan yang saya pilihkan.

Dari sana saya jadi sadar bahwa ketika kita sampai pada suatu titik yang bisa disebut dewasa, ketika semakin banyak dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit, perlahan kita akan mulai menyingkirkan atribut pada pilihan yang kita ambil. Begitu juga halnya ketika kita memutuskan jalur karir yang mau diambil atau juga tentang pendamping hidup.

Jadi teringat percakapan sore tadi dengan seorang teman di kantor, “Kenapa lo ngga jadi beli tipe ini? padahal kan itu kamera mirrorless terbaik”, —“Gue ngga nyari yang terbaik, Gue nyari yang gue butuhkan” 

Anyway, karena kamera ini belum seminggu di tangan, rasanya belum siap untuk merilis review awam kamera ini. Tapi senin depan rencananya kamera ini akan saya bawa ke Surabaya, jadi mudah-mudahan minggu depan sudah bisa bikin review tentang Fujifilm X70 ini.

Xoxo.

One thought on “Tentang Memilih Kamera (II)

Leave a Reply