Tentang Millennials

millennials

“Gue ngga suka sama anak-anak millennials, belagu banget!”

Di sebuah perusahaan yang berada di industri yang sudah mapan, gencar —atau latah?— menggunakan istilah ‘Millennials’ sebagai apa yang saya anggap propaganda, biasanya akan berdampak pada banyaknya gesekan-gesekan yang disebabkan oleh ketidakpahaman akan makna millennials itu sendiri. Era keterbukaan dan (ehem) area kerja yang terbuka nyatanya tidak serta merta membuat mereka yang merasa ‘bukan millennials’ menjadi sedikit lebih millennials, atau setidaknya sedikit lebih terbuka dengan hadirnya para millennials.

Saya pribadi sempat tertawa ketika melihat sebuah forum invitation di mailbox saya dengan tema “Millennials, friend or foe?”, sebegitu menyeramkannya kah kehadiran millennials di lingkungan kerja? Dan ternyata tanpa perlu menunggu lama, pertanyaan saya terjawab dengan sebuah kejadian yang melibatkan fisik antara seseorang yang mereka sebut millennials dengan seseorang yang merasa dirinya bukan millennials —yang konon berawal karena si Mas-mas merasa tertendang ketika sedang duduk menunggu waktu sholat jumat. Selang beberapa hari kemudian kembali muncul insiden yang lagi-lagi pemicunya hanyalah sekedar ‘Siapa yang tapping, siapa yang buka pintu, siapa yang keluar’.  Saya tertawa, tapi lebih kepada tertawa miris kali ini, karena propaganda yang dikampanyekan ternyata memiliki dua mata pisau yang bisa melukai siapapun dan secara tidak langsung membelah aset perusahaan menjadi dua.

Mendengar berita akan insiden tersebut, kami yang dianggap millennials ini hanya bisa menghela nafas panjang sambil terus berpikir positif, “mungkin mbaknya sedang PMS saat tapping di pintu lobby, atau mas-nya juga lagi PMS ketika merasa tertendang”. Sebenarnya kalau mau dicari-cari saya juga sempat mengalami hal semacam itu, tapi ya sudahlah. Mana bisa sih kita membuat semua orang senang, dan pada akhirnya mau bagaimanapun mereka, toh kami akan tetap berusaha memberikan hasil terbaik untuk perusahaan.

Menurut saya, ada satu fase yang terlewat dari kampanye millennials di sini, yaitu pemahaman tentang apa dan siapa sebenarnya millennials itu. Apakah sebenarnya yang membuat seseorang disebut millennials; tahun lahir-kah atau pola pikir?

Banyak kalangan setuju bahwa mereka yang disebut millennials adalah yang lahir pada rentang tahun 1980 sampai tahun 2000. Itupun yang saya sering dengar dari para bapak-ibu di sini dalam setiap kesempatan. Tapi kenyataanya banyak dari mereka yang lahir di awal tahun 80-an menempatkan dirinya di pihak ‘non-millennials’, termasuk mas-mas yang terlibat insiden kemarin. Pun begitu dengan teman sebaya saya yang lahir di tahun 90-an banyak juga yang menurut saya tidak masuk ke dalam check list karakteristik generasi millennials.

Bagi saya, riuh ramai tentang millennials ini sebenarnya ada pada perbedaan mindset atau pola pikir, bukan tentang sekedar tahun lahir. Memang betul bahwa generasi yang lahir di tahun 90-an cenderung lebih tech-savvy, lebih mudah belajar —tapi ya itu sebuah keniscayaan karena memang mereka lahir dan tumbuh di era digital. Tapi saya juga bisa menyebutkan beberapa nama yang lahir sebelum tahun 1980 yang jauh lebih tech-savvy, lebih terbuka pikirannya dibandingkan teman-teman saya yang berada di angkatan lahir 90-an. Begitupun yang lahir 90-an tapi berpola pikir macam bapak-ibu kita, banyak banget.

Apa yang terjadi belakangan ini menurut saya adalah dampak dari ketakutan yang berlebihan terhadap gelombang generasi baru oleh generasi sebelumnya yang divalidasi oleh berbagai media yang membahas tentang disruptive generation, sekaligus digoreng oleh perusahaan menjadi sebuah agenda propaganda transformasi yang kemudian menyebabkan prediksi yang secara langsung atau tidak langsung membuatnya terwujud sendiri akibat feedback positif antara keyakinan dan kenyataan, atau yang biasa disebut Self-fulfilling prophecy.

Yang jelas, millennials atau bukan, manusia akan terus berubah seiring dengan terus berkembangnya jaman. Dan satu-satunya cara untuk tetap survive adalah menjadi relevan dengan setiap perubahan, bukan berteriak dan melawan perubahan. Salah satu pola pikir millennials yang saya yakini benar adanya adalah bagaimana mereka tidak akan pernah puas dan selalu menginginkan untuk menjadi lebih, melakukan lebih dan mendapatkan lebih. Sayangnya, banyak dari kita yang ingin mendapatkan lebih tanpa melakukan lebih.

Sampai akhirnya saya sempat membuat anekdot dengan beberapa teman saya seperti ini;

  • Gen-M: “Kerja keras, kerja bagus, biar karir bagus…”
  • Perusahaan: “Wah senangnya ternyata Gen-M ini kerjanya bagus dan cepat!”
  • Gen-X: “Ternyata mereka kerjanya bagus dan cepat, bagus deh gue jadi bisa santai, mereka aja yang ngerjain cukup”
  • Perusahaan: “Eh kenapa Gen-X jadi makan gaji buta gini ya, suruh pergi ajalah”
  • Gen-M: *bingung ngga ada yang ngarahin karena seniornya pergi*

Hehe mudah-mudahan tidak seperti itu dan mudah-mudahan juga millennials tidak hanya dijadikan sekedar jargon tapi juga DNA perusahaan agar hasil yang diharapkan bisa segera muncul. Mungkin bisa dimulai dengan harus lebih sering tatap muka dengan berbagai pihak yang bisa mewakili berbagai generasi, bukan sekedar pakai survey yang diisi melalui layar kaca. —mungkin bisa sambil ngopi-ngopi sekaligus memvalidasi apa benar millennials doyan nongkrong di Starbuck? wink

6 thoughts on “Tentang Millennials

  1. mas agung saya berpendapat, seharusnya perusahaan tidak mempersoalkan M atau bukan.
    seharusnya mengakomodasi untuk berkolaborasi dan sejenisnya…

    1. Saya setuju mas Icak, namun di perusahaan digital seperti ini, hal itu dilakukan untuk menginspirasi generasi sebelumnya agar “selincah” gen-M, meski pada eksekusinya tidak semudah yang dibayangkan.

Leave a Reply