Tentang sebuah kehadiran

Bulan Agustus lalu Mama akhirnya berangkat untuk menunaikan ibadah haji, sendirian. Iya sendirian, dan selalu jengkel ketika ada yang bertanya, “kenapa kok ngga ditemenin Mama-nya?” seakan-akan saya anaknya ngga mau banget direpotin untuk sekedar menemani Mama berangkat haji.

Bukan perkara mau atau tidak, tapi memang aturannya tidak semudah itu; ingin menggantikan “jatah” almarhum Papa itu ngga bisa, tetep saya harus antri; 13 tahun.

Satu hal yang saya sadari dari kepergian Mama untuk menunaikan haji kemarin adalah meski sudah sebesar ini, saya tetaplah anak Mama yang paling cengeng. Kadang saya sibuk cari pembenaran, bahwa ini bukan cengeng, tapi memang perasaan saya mudah tersentuh, sensitif; atau karena memang saya punya hati yang terlalu lembut HAHA.

Saya ingat ketika kecil saya selalu minta dibacakan dongeng atau cerita oleh Papa sebelum tidur. Dan suatu hari, stok buku maupun cerita Papa sudah habis, sedangkan saya tetap merengek minta diceritakan sebuah cerita. Alhasil, Papa mengarang cerita, dengan tokoh utamanya adalah saya sendiri.

Dalam cerita itu dikisahkan bahwa saya adalah anak yang nakal, yang entah kenapa suatu hari ditinggal Mama pergi jauh. Tebak apa yang terjadi? Saya mendengarkan cerita itu sambil menangis sampai tertidur cry

Banyak sekali kejadian dimana saya menangis ketika tidak mendapati kehadiran Mama di dekat saya. Tapi yang kemarin ini berbeda, saya menangis bukan lagi karena ketidak hadiran Mama, melainkan karena ketidak mampuan saya untuk hadir disana.

Mungkin itu juga alasan kenapa saya selalu dan selalu mengusahakan untuk sebisa mungkin pulang ke rumah di Bandung setiap ada kesempatan; Sesederhana tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak meluangkan waktu lebih banyak dengan Mama dan adik selagi bisa.

Begitulah.

 

Leave a Reply