Mengulas Diri

Saya kira— tidak akan sulit buat manusia yang hidup di era ini untuk menuliskan ulasan tentang apapun itu. Termasuk tentang diri atau pribadi seseorang. Bukankah kolom komentar akun-akun turah selalu penuh sesak dengan ulasan yang seringnya tidak pernah diminta?

Hipokrit dan utopic— begitu katanya. Meski tampil tanpa identitas alias anonim, saya senang sekaligus gusar ketika Desember lalu ada manusia yang meninggalkan ulasan tentang saya di laman ini. Gusar karena kepikiran bagaimana caranya untuk mengelaborasi lebih tentang apa yang dia katakan. Segitu buruknya ya saya?

Maka di awal tahun ini, saya punya ide, apa jadinya kalau saya kumpulkan saja ulasan dari mereka yang hadir di berbagai spektrum kehidupan. Barangkali ada pelajaran yang bisa saya petik— tentu saja ada. Atau bahkan akan ada ulasan-ulasan serupa yang bercerita tentang betapa hipokrit-nya saya atau apapun itu.

Konsepnya sederhana— saya membuat form dengan beberapa pertanyaan yang kira-kira mampu menangkap segala cemas dan perasaan tertahan yang selama ini beterbangan di antara kami. Lalu mempublikasikannya secara personal hingga dapat mereka isi tanpa perlu mengisi identitas. “Feel free to write the truth, the good, the bad, the uncomfortable and all the million nuances in between, ya. Ini anonim.” tutup saya, berusaha meyakinkan setiap kali mengirimkan tautan.

“But Agung, I always thought of you as free spirited, not caring what other people think of you. But why are you now putting yourself at the center of other people’s attention, asking for their thoughts on you?”

Rasanya ingin segera saya jawab dengan “Karena kalian sebagai manusia terdekat ngga pernah sedikitpun mengkritik. Kemudian kemarin hadir manusia entah siapa mengkritik aku sedemikian pedih. Aku bingung kemana harus mencari validasi ketika kalian selalu bilang aku baik-baik saja”— tapi kan ngga bisa gitu.

Maka saya jawab, “Sejujurnya, I don’t care about what people think of me, but I care about how they feel.” Dan jawaban ini menjadi template yang cukup ampuh setiap muncul pertanyaan serupa. “Yang aku takutkan,” berusaha melanjutkan penjelasan setelah kerut dahi yang saya terima setelah jawaban pertama, “bukan tentang kritik pedas atau ternyata banyak hal buruk yang kalian tulis— justru kalau memang hal buruk itu nyata adanya, itu yang paling aku tunggu”, kali ini manusia di hadapan saya masih terdiam. “Yang paling aku takutkan adalah akan banyak dari mereka yang memilih untuk tidak memberikan feedback-nya tentang aku” —Hints: it was. Some of my favorite humans wouldn’t even bother to fill it.

So, with a little over 30 responses, here are the synthesized results:

How do I make you feel?

Pertanyaan ini sebenarnya ingin menggali tentang apakah ada yang terganggu dengan kehadiran saya atau tidak. Tapi ternyata ngga ada fokus terkait hal tersebut di kolom jawaban. Meski begitu, ada beberapa hal yang saya jadikan catatan di antaranya terkait ‘social-jealousy’ dan ‘terlalu dingin’. Most common responses:

  • Listened to/cared for
  • Calm and comfortable

Keywords: Reliable, adorable, approachable, inspirative, perfectionist, care, positive.

What do you like about working or having a business with me?

Pertanyaan ini memang lebih tepat ditujukan ke mereka-mereka yang pernah kerja bareng saya. Walau komposisi partisipannya cukup seimbang dari spektrum pertemanan kantor ataupun kuliah dan sekolah dulu, tapi hasilnya ngga terlalu menunjukkan perbedaan sih.

  • “Always deliver more than expected”
  • “Calm, direct, logical, reliable, and at the same time artistic, see the world as the way it is but in a different unique perspective”
  • “Sometimes people don’t know what they want and what they like/dislike, but you know what you want/want to be from the start. You know what your goals are and you strive for that.”

Tapi disini kelihatan sekali perbedaan pendalaman yang diberikan oleh rekan-rekan yang kenal baik dengan saya ataupun yang hanya sekedar kenal. Ada bias dan diksi normatif dalam setiap ulasan dari mereka yang kurang mengenal pribadi saya. Tidak jadi masalah, manusiawi.

Keywords: Logical, reliable, data, insightful, passionate, organized

What you don’t like about working with me? Or what do you think is the most annoying thing about me?

Di sini saya mulai menggali hal-hal negatif dan menyebalkan yang mungkin ada dalam diri saya. Sengaja memberikan konteks ‘working’, tujuannya agar membantu mereka mengingat ulang kejadian yang mungkin terjadi ketika sedang bekerja dengan saya dan menceritakannya dengan contoh yang kongkret.

  • “Have too much doubts and worries. Need to be bolder and riskier. And no need to be over-care”
  • “When you realize something is below your expectation, instead of correcting the person, you just gave up said ”hmm yaudah deh,” (with a frustrated sad face)”
  • “Self-reliant! putting far too much pressure on yourselves! And sometimes didn’t let anyone help”
  • “Kalau udah ngga suka, ya ngga suka. Ngga mau nyoba.”

Menarik. Ketika ditanya tentang hal tidak baik tentang diri saya, ternyata mereka lebih terbuka tentang hal tersebut dan ini menyenangkan. Beberapa hal yang saya jadikan catatan lebih ke bagaimana saya melakukan respon sosial (dingin, tatapan yang terlalu tajam, keras kepala), terlihat kurang aktif bahkan terlihat terlalu tenang menghadapi deadline dan tekanan (yang ternyata bikin yang lain-lain ketar-ketir padahal kan maksud saya biar yang lain ngga usah kebawa khawatir). Bersosialisasi memang harus diakui pekerjaan rumah paling besar sih buat saya pribadi.

Keywords: Self-reliant, passive, stubborn, overthink, too cold, lack of empathy, ignorant

What was I good at?

Sebenarnya saya berharap hasilnya akan berbeda dengan pertanyaan kedua, tapi ternyata hasilnya kurang lebih sama. Untuk seri ‘strengths’ ini, jawabannya bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian

  • Analytical thinking and conceptualization
  • Communicating: interpersonal communication and artistic/visual communication
  • Self-awareness

Keywords: Organizing, optimistic, analytical, planning, communicating, creative

What was I not so good at?

Pun untuk seri ‘weaknesses’ ini hasilnya kurang lebih sama dengan pertanyaan ketiga. Most common responses:

  • Overthink and too much doubt
  • Less (or lack of) effective assertiveness
  • Socially awkward (I do, hehe)

Terkait ketegasan itu bener banget sih. Terima kasih buat yang sudah peka tentang hal ini.

Keywords: Assertiveness, Ignorant, lack of empathy, overthink, too quite

Last but not least, what final thoughts or comments would you like to leave me with?

Beberapa menutup feedback ini dengan kalimat-kalimat penyemangat dan ungkapan terima kasih karena sudah berada di sekeliling mereka untuk beberapa waktu ini, juga ungkapan-ungkapan yang baik dan harapan agar saya tetap menjadi:

  • being so kind and helpful, smart but less bitter
  • on smiling, shining and improving (what am I to shine?)
  • on charming and glowing (hmm)
  • being ambitious and obsessed

Pun beberapa meninggalkan pesan yang lebih personal.

“I think you are a great person. Super smart with amazing sense of art. You’re a rare colleague and i consider myself lucky to ever work with you!”

“Thank you for always helping me as a person, friend and team”

“Jadilah apa yang menurut kamu baik, selama kamu percaya apa yg kamu lakukan itu yg terbaik. Saya percaya suatu saat Agung bisa jadi leader yang hebat, asal mau lebih meningkatkan intuisinya dengan orang lain.”

“You’re a good person with a good heart and I hope, agung segera menemukan orang yang dapat menemani agung hingga masa tua, lancar dalam karir, menjadi lebih tegas, bahagia selalu. Bonne chance for a better agung in a future!”

“Setiap liat kamu semangat kalau lagi cerita tentang mimpi-mimpi kamu, selalu ikut bilang aamiin aku. Good luck untuk semua hal baru yang akan dimulai tahun ini.”

“These evaluations are indeed a unique effort. You’re going to be successful—and that’s that. Good luck on your journey, and I wish you all the best for the upcoming challenges in 2019!”

Thank you!

A big thank you to everyone who took the time and thought to complete the form and provide me with such beautiful data and feedback (and all those beautifully love thoughts). It means a lot to me and I hope there’s also something here you can take away for yourself. I will love to hear any more thoughts you have to share.

*Mohon maaf jika dalam tulisan ini banyak ditemukan kalimat-kalimat berbahasa Inggris bercampur dengan bahasa Indonesia dan sebaliknya

Leave a Reply