The Heaven (Still) Lies Under My Mother’s Feet

Engga tau ya, tapi dibandingkan sama Papa, saya selalu merasa punya ikatan yang luar biasa kuat sama Mama. Terlepas dari kata orang-orang bahwa.. ‘Bu, anaknya yang kedua ini mirip banget sama ibu, kalau yang lain mirip Papanya’, atau celetukan ‘Za, anak kau ini mirip kali sama kau waktu kau kecik dulu’ setiap pulang ke dusunsaya selalu merasa Mama ada dalam setiap gerak-gerik yang saya lakukan. Yang entah bagaimana caranya, direstui atau tidaknya keputusanku, akan langsung berdampak pada hasilnya. Real-time result.

Yang terbaru misalnya, adalah ketika saya memutuskan untuk mengambil Kerja Praktek di Jakarta. Pada saat pertama kali mendengar niatan tersebut, Mama memang tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Saat itu saya berfikir, mungkin Mama sudah mulai bisa merelakan anak-anaknya pergi jauh dari rumah. Beberapa hari kemudian, sepertinya Mama mulai kepikiran. Kemudian muncullah pertanyaan, ‘Nanti berarti pas bulan puasa ya? Kamu kuat panas gitu disana? Nanti sahurnya gimana? Disana sama siapa aja temennya? Nyuci baju gimana? Pulang tiap minggu?’. Awalnya semua pertanyaan itu saya jawab enteng, tapi namanya anak, pasti ngerasa, sebenernya Mama nggak pengen saya ke Jakarta. Makin mendekati hari keberangkatan, Mama makin sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya dampak dari kekhawatiran beliau. Sampai akhirnya sempat muncul kalimat, ‘kenapa nggak di Bandung aja, sih?’. Dari sana saya sadar, Mama tidak sepenuhnya merestui.

Dan voila, saya yang sudah 95% dipastikan akan melakukan kerja praktek di Jakarta, tiba-tiba batal secara sistematis, seperti ada skenarionya. Iya, akhirnya saya di Bandung. Kegagalan-kegagalan sistematis seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali saya alami, dan kalau saya coba tracing, ujung pangkalnya hampir dapat dipastikan adalah restu atau ijin dari Mama. Sesimpel itu.

Dan seperti apa yang teman saya ucapkan diatas, mumpung masih bisa kumpul sama orang tua, kenapa engga. Mungkin memang harus begini caranya. Dan saya alhamdulillah tidak pernah menyesali segala kegagalan-kegagalan itu, sih. Justru sering saya temukan keuntungan-keuntungan atau hal-hal baik dibalik semuanya. Feeling seorang Ibu tuh ya, memang luar biasa :’

Love you, Mam.

Leave a Reply