the rose speaks of love silently, in a language known only to the heart.

24 Januari 2012. Ketika tiga hari yang lalu aku menginjakkan kakiku disini, aku sadar bahwa konsekuensi ini harus aku terima. cepat atau lambat —yang kemudian aku sadar bahwa ini sangat cepat— kita akan terpisah lagi. jauh lagi. tapi jangan khawatir. sesungghnya, jarak kita hanya sebatas daun telinga dengan ponsel di tangan.

sejujurnya aku bersyukur perpisahan kali ini tidak diwarnai dengan isak dan tangismu seperti perpisahan-perpisahan sebelumnya. mungkin aku, dan kamu sudah terbiasa dengan realita ini. mungkin kamu juga sudah tidak khawatir, karena kamu yakin suatu saat waktu pasti akan kembali menepati janjinya untuk membawaku kembali kesini. dan aku pun juga sudah tidak khawatir, karena aku yakin bahwa keberadaan mereka —teman-teman terbaikmudisekelilingmu sudah cukup untuk membuatmu nyaman dan bahagia meski tanpa kehadiranku.

Dan mawar ini, yang kamu berikan di enam puluh detik terakhir kebersamaan kita— juga suratnya. terima kasih. aku sangat terharu. ini adalah hal kecil yang paling romantis yang pernah aku dapatkan. sebenarnya aku sudah berusaha agar mawar ini tidak layu, setidaknya sampai kamu mengirimkan mawar lain yang baru —HAHA— , tapi apadaya, ia layu dan menghitam.

Selamat kembali beraktivitas, sayang. semoga setelah kedatanganku kemarin kamu jadi lebih semangat dan ceria menjalani hari-harimu. dan aku disini akan kembali melukis garis-garis wajah dan senyummu dalam batas imaji.

Leave a Reply