Ucapan adalah doa

Berawal dari sebuah percakapan singkat di sebuah jejaring sosial dengan dosen wali saya, pagi tadi. Tidak seperti biasanya, beliau yang memulai percakapan. Seingat saya, kalau beliau yang memulai percakapan, pasti ada sesuatu, entah itu ada kakak kelas yang sedang mencari partner untuk sebuah kompetisi, atau ada urusan dengan akademik. Tapi ternyata pagi ini berbeda.

“Agung, foto yang kemarin kamu upload, dirimu sekarang jadi Microsoft Student Partner, kah?” Awalnya Saya agak terdiam membaca pertanyaan dosen wali saya tersebut. Foto yang mana? Pikir saya dalam hati. Setelah membuka halaman profile saya, ternyata memang benar, ada beberapa foto ketika saya jadi pembicara di openmind ProClub kemarin, sebagai Microsoft Student Partner. “Wah sudah 6 bulan bu saya jadi Microsoft Student Partner” jawab saya.

“Kerennnnnnn.. bahagia kalau anak wali ada yang berprestasi gini”cetus si Ibu wali. “Jadi ikutan bangga, bisa dipamerkan ke anak wali yang lain biar pada semangat mereka” lanjutnya. Mendadak hidung Saya berair karena pujian yang dilancarkan bertubi-tubi oleh dosen wali saya. Dipamerkan? Apa yang bisa dipamerkan dari seorang Agung Agriza?

Belum selesai rasa kebingungan Saya, si Ibu dosen wali  ini melanjutkan bombardirnya, “nanti kamu saya seret buat memotivasi anak-anak wali saya yang lain ya, sama nanti jadi pembicara di CDC (Career Development Center), kalau dulu kan Kak Wirawan (Alumni), generasi sekarang kamu yang jadi pembicaranya”. JLEB.

Saya? Disandingkan dengan Kak Wirawan? Legenda IT Telkom? Legenda ProClub? Legenda MSP-ITT?

Saya jadi ingat dengan sesuatu yang terjadi hampir setahun yang lalu. Saat itu sekitar akhir bulan Desember 2012. Ada sebuah acara, rangkaian dari acara SHAKTI 2011 (Ospek Fakultas). Acara malam itu adalah sebuah mini seminar yang diadakan di Student Hall, yang menampilkan beberapa kakak tingkat dari jurusan Teknik Industri yang boleh dibilang memiliki segudang pengalaman dan prestasi yang luar biasa.

Saat itu, Saya terpukau dengan mereka. Sampai-sampai Saya berkata kepada sahabat Saya, Ilham, “Tahun depan gue mau jadi pembicara kayak mereka, didepan”. Saat itu Ilham langsung menyetujui, “Iya, gue juga”, tapi cepat-cepat Ia kembali meralat kalimatnya, “Eh 2 tahun lagi lah, tahun depan mah belum bisa”. Dan Saya, dengan mata yang masih nanar menatap para senior yang sedang ‘berkhotbah’ berkata lirih,“Nggak, gue tahun depan”.

Dan benar saja, bahkan belum genap 12 bulan berjalan, Saya sudah menjadi seorang pembicara dihadapan hampir 400 mahasiswa/i IT Telkom di Gedung Serba Guna. Ini lebih besar daripada mini seminar tahun lalu yang Saya impikan. Maka tidaklah salah kalau Saya membenarkan bahwa ucapan adalah doa. Ya, ucapan adalah doa.

Apa saya berusaha keras bahkan sampai melakukan apapun untuk mewujudkan kalimat “Tahun depan gue mau jadi pembicara” yang tahun lalu saya ucapkan? Nyatanya tidak. Saya tidak berharap muluk-muluk memang, saya tahu diri, saya ini mahasiswa biasa. Agak mengada-ada nampaknya kalau saya memaksakan diri untuk jadi seorang pembicara. Bahkan saya lupa kalau saya pernah mengucapkan kalimat itu, tapi percayalah, semesta tak pernah lupa, Ia berkonspirasi untuk mewujudkan itu semua. Untuk mengamini ucapan saya setahun yang lalu.

Jangan pernah takut bermimpi, apalagi berandai-andai. Percayalah bahwa Tuhan selalu mendengar apapun itu :)

Leave a Reply