Well-Scripted

Bulan April lalu saya dipromosikan ke tempat yang baru di kantor, dan surprisingly, saya malah ketemu dengan seseorang yang menjadi teman pertama saya di bangku Sekolah Dasar dulu, yaitu Nashif.

Jadi ceritanya, dulu saya sempat bersekolah di kota Malang walaupun cuma sebatas satu caturwulan atau kurang lebih tiga bulan. Dan di sekolah itu lah saya bertemu Nashif, dan kita duduk sebangku. Salah satu alasan yang bikin saya selalu ingat tentang dia adalah dia teman pertama saya dan dia adalah seorang bule. Lalu satu-satunya foto kenangan di sekolah itu hanyalah foto kami berdua saat sedang mewarnai, dan dulu, Mama sering banget nanya, “Temen kamu yang bule itu kok namanya Nasib, sih?”

Pertemuan kami kemarin ngga terjadi begitu saja, ngga langsung saling mengenali. Justru dia ngga ingat sama sekali tentang saya. Yha, I’m the forgotten. Jadi setelah sempat dikenalkan oleh manajer saya, saya penasaran kenapa ada bule yang dipanggil Acip, memang nama aslinya siapa? Dan setelah dijelaskan oleh seorang teman bahwa nama aslinya Nashif dan dia berasal dari Surabaya, seketika memori masa kecil saya menyala.

“Kamu pernah tinggal di Malang?” tanya saya, “pernah, aku SD di malang”. Dang!

well scripted

16 tahun lalu

Akhirnya saya bilang ke Acip, kalau saya adalah teman satu kelasnya waktu SD. Awalnya dia malah balik nanya keheranan, “Ha? Masa sih? Aku kok ngga inget ya?”, wajar sih, saya memang cuma tiga bulan disana, dan itupun 16 tahun yang lalu. Satu-satunya alat pembuktian ya selembar foto yang sampai sekarang masih ada lemari album foto itu. Untungnya, di facebook juga ada. Dan setelah saya tunjukkin fotonya, akhirnya dia sadar. Dan itu bikin teman-teman kita di satu lantai itu pada keheranan, “Kok bisa sih? Well-scripted banget”

Jadi begitulah, setelah 16 tahun saya pindah dari satu kota ke kota lain sampai akhirnya ke Jakarta, begitu juga dengan dia, pindah dari Malang ke Surabaya lalu ke Jakarta. Kita dipertemukan lagi dengan selembar foto masa kecil sebagai kunci. Seolah-olah foto itu dulu diambil karena memang kami berdua akan dipertemukan lagi.

Lucu ya, kadang saya merasa betapa drama-nya hidup saya. Tapi dari situlah saya jadi sadar bahwa sebaik-baiknya penulis, sebaik-baiknya pembuat cerita, sebaik-baiknya kehidupan adalah Dia yang menciptakan. MasyaAllah.

Leave a Reply