Year in Review

Suatu saat saya akan merasa bahwa apa yang saya lakukan di 2015 kemarin was totally crap. Padahal kalau sekarang diberi pertanyaan yang sama, mungkin jawabannya akan beda.

Ketidakselarasan penilaian pada diri sendiri —yang belakangan saya alami— yang disebabkan oleh perbedaan usia dan tentu saja sudut pandang yang (sudah) berbeda nanti itulah yang bikin saya selalu ingin menulis review tahun yang baru saja lalu di setiap pergantian tahun. Sebenarnya bukan hanya tentang itu, tapi setidaknya ada bahan pengingat untuk dikemudian hari.

Menurut saya, membaca tulisan tentang masa yang sudah lalu itu ibarat.. mengalami kehidupan untuk yang kedua kali. Misalnya kemarin, ketika ada yang bertanya di askfm, tentang bagaimana saya menjalani masa-masa awal usia dua puluh. Untuk menjawabnya saya perlu mengalaminya lagi, dan dengan membuka halaman demi halaman tumblr —yang kemudian dilanjutkan dengan senyum-senyum sendiri itu—, itu artinya saya sengaja menenggelamkan memori dalam mesin waktu buatan saya sendiri, tenggelam yang menyenangkan. Dan tentu saja ibarat ritual, kadang kayak belum sah aja gitu kalau belum bikin year in review. Nah, yang terakhir itu tadi baru alasan.

Tahun lalu, saya tidak membuat sebuah review pun resolusi, mungkin karena terlalu sibuk dengan hal lain. Sebenernya tidak ada yang salah sih dengan itu, toh 2015 tetap jalan dengan ataupun tanpa ritual tahunan itu. Karena secara tidak sadar sebenarnya dalam alam bawah sadar pun kita sudah punya pikiran mau achieve apa saja tahun ini. Dan pada akhirnya, meskipun tidak ada satupun resolusi tertulis diawal tahun kemarin, saya harus bilang, terima kasih untuk 2015 dengan segala sesuatu di dalamnya. Karena apa yang saya rencanakan, apa yang saya inginkan mostly sudah tercapai di 2015. Tapi sayangnya hal yang sangat tidak saya inginkan bahkan tidak pernah terbayangkan akan terjadi, juga ikut terjadi di tahun 2015.

Tentang Papa (Januari – Maret)

sakit
Papa sakit

Di awal tahun 2015 tidak ada yang paling saya ingat kecuali tentang papa yang sakit dan bolak-balik ke Dokter spesialis di berbagai macam rumah sakit sejak natal 2014. Otomatis saya akan menemani mama kemanapun untuk mengantar papa berobat. Sayang, saya anaknya terlanjur terlahir sebagai orang yang positif banget; selalu yakin papa pasti sembuh. “Masa rumah sakit sebagus ini ngga bisa nyembuhin papa sih?”, “Masa dokter, profesor sehebat dia ngga bisa nyembuhin papa, sih?”. Saya lupa, yang bisa menyembuhkan papa itu bukan dokter atau profesor tapi, Allah.

Bahkan ketika di suatu sore papa nyeletuk bahwa dia ngga akan lama lagi karena sempat muntah darah, saya cuma bisa senyum, selain karena tidak tau bagaimana meresponnya, juga karena saya sempat menganggap itu cuma jokes buatan papa aja… iya, papa memang suka bikin jokes. Duh, Gung!

Yaiyalah, mana bisa saya membayangkan kehilangan seorang papa? Dalam bayangan saya, papa akan dengan sangat sehat datang ke wisuda bulan agustus lalu, menjadi wali di pernikahan saya nanti, datang ke kelahiran cucu-cucunya, dan kami akan sering jalan-jalan bersama. Bahkan ketika ketakutan pun datang, saya masih sempat bilang begini, “Aku belum siap sih, kalau harus kehilangan papa sekarang.” Ironisnya, kalimat itu saya ucapkan tepat sehari sebelum papa meninggal dunia. Ternyata benar, kematian tidak menunggu kita untuk siap.

Tentang Wisuda (Juni – Agustus)

wisuda
wisuda

17 Juni 2015, saya melaksanakan sidang sarjana. Biasa saja karena sejujurnya sudah terlalu lelah untuk menjadi serius. Tapi lega karena pada akhirnya semua terbayar: jam-jam tidur, main dan waktu bersama keluarga yang hilang, materi, tenaga, pikiran yang tercurahkan. Alhamdulillah, setidaknya urusan dengan mesin-mesin dan hitungan eksak yang abstrak itu selesai. Saking lemasnya saya cuma bisa pasang raut senyum default sambil peluk teman-teman yang hadir. Biasa lah, drama menuju sidang: sehari sebelumnya bahkan malam sebelum sidang pun saya tidak tidur: menyiapkan sidang ceritanya, biar kelihatan agak niat.

15 Agustus 2015, saya melaksanakan wisuda sarjana, tanpa papa. Dan seperti yang sudah saya duga, wisuda memang biasa saja. Sempat melankolis diawal seremoni ketika pihak kampus berusaha memunculkan lagi guratan memori 4 tahun kehidupan di kampus, tapi cuma sebentar. Sisanya seremonial biasa. Mau dibuat semengharukan apapun, akan jauh lebih mengharukan cerita enam bulan perjuangan menuju sidang; tentang topik TA yang rumit, tentang tekanan dari atas, bawah, kiri dan kanan, bingung harus ngapain sampai nangis sendirian beberapa kali, baca buku ini itu, kerja siang malam, tentang gagal yang berulang lalu rework berkali-kali, memantau orang kerja di Jatayu, keluar dini hari sekedar nongkrong di cafe saking suntuknya, itu jauh, jauh lebih mengharukan ketimbang wisuda. But then again, pada akhirnya saya wisuda. Saya sarjana.

Tentang Kerja (Juli)

kerja
kerja kerja kerja

 

Saya pikir 2 semester untuk menyelesaikan skripsi itu… panjang. Ternyata saya cuma tahan sampai bulan Mei. Sisanya mulai coba daftar kerja, “sudah ngga tahan..”, jawab saya singkat setiap ada yang bertanya.

Satu hari menjelang sidang, saya mendapatkan email untuk medical check-up tanggal 17 Juni 2015. Iya, bentrok sama jadwal sidang. Mau tidak mau, pasca sidang saya tidak banyak hahahihi langsung cabut ke tempat dilaksanakannya medical check. Lima hari kemudian saya dipanggil ke Jakarta untuk tanda tangan kontrak, dan bulan Juli sudah mulai masuk hari pertama, alhamdulillah.

Tentang Singapura (Agustus)

halo, singapura
halo, singapura!

Ketika saya gagal disponsori oleh salah satu Multinational Company ke Amerika Serikat sekitar bulan Juli 2015 kemarin —karena alasan visa dan paspor—, saya sempat berpikir bahwa sepertinya keluar negeri modal dengkul itu sepertinya terlalu mewah buat saya, sepertinya sih saya memang harus merogoh kocek sendiri, padahal kan saya anaknya jalan-jalan banget, “bisa bangkrut sebelum berkembang dong gue..”.

TERNYATA ENGGAA! Tepat seminggu setelah saya wisuda, saya dan 10 mahasiswa dari beberapa kampus lain di pulau jawa diberangkatkan ke Singapura lalu ke Batam (Iya, bukan Amerika, tapi tetep aja!) oleh Schneider Electric Indonesia (another Multinational Company) selama 5 hari dalam rangka Schneider Electric Campus Ambassador (SECA) Graduation! Bener-bener modal dengkul, malah dimodalin uang saku. Asik dan seru banget!

Tentang Snorkeling (Oktober)

snorkeling perdana
snorkeling perdana

Usia saya masih 22 tahun saat itu —23 kurang sebulan lebih tepatnya—, dan itu adalah snorkeling pertama yang saya lakukan. Jadi ceritanya saya merindukan salah satu entitas yang sudah saya anggap keluarga sendiri, Prosman. Dan tentu saja mereka juga merasakan hal yang sama mehehe ngga ding. Intinya saya ingin jalan-jalan dengan mereka, dan mereka setuju. Kebetulan saya ingin sekali ke Pulau seribu, dan alhamdulillah mereka juga setuju. Akhirnya meluncurlah kami ke pulau Harapan. Hasilnya luar biasa, lutut berdarah-darah (efek kepanjangan kaki) dan beberapa mililiter air laut sempat tertelan. Basically, saya memang tidak bisa berenang dan takut tenggelam, itu yang bikin lutut berdarah-darah dan keminum air laut. Tapi teteup seneng banget, such a happy bubbles fish!

Tentang Naik Gunung! (Oktober)

naik gunung prau
gunung prau

Another achievement unlocked! Jadi ceritanya setelah menaklukan lautan, target selanjutnya adalah menaklukan Gunung. Tapi kemarin saya tidak terlalu ambisius sih, dengan langsung naik Gunung Mahameru atau Papandayan misalnya, ya kali, naik gunung aja baru sekali. Kemudian pilihan jatuh pada gunung dengan predikat salah satu gunung untuk menikmati sunrise terbaik, Gunung Prau 2565 mdpl! Saya kesana seminggu setelah ke pulau Harapan, bareng kak Rofiqi dari Jakarta naik damri dan bertemu dengan 4 orang lainnya yang berangkat dari Bandung, jadilah kami berenam. Seru sih, capek, dan dingin banget, sempet takut mati kedinginan HAHA tapi terbayarkan semua ketika matahari mulai terbit, subhanallah, cantik banget!

Tentang Umroh (December)

kabah
ka’bah

Sebagai penutup atas segala cerita, kebahagiaan dan ujian yang saya dan keluarga hadapi di tahun ini, kami sekeluarga berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah. Perjalanan paling melelahkan sekaligus paling menyenangkan yang saya lakukan tahun ini. Bagaimana tidak, otomatis sejak papa sakit akhir tahun lalu, ditambah kepindahan saya ke Jakarta, kami sekeluarga belum pernah jalan-jalan bareng lagi. Dan umroh kemarin bener-bener bikin kami sekeluarga bareng-bareng terus selama 9 hari! Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding bisa beribadah (dan jalan-jalan) bareng keluarga, sayangnya, tanpa Papa (teteup). Tapi alhamdulillah kemarin saya sempat ngebadalin (ngeumrohin) Papa, semoga diterima aamiin.

That’s it! Sebenarnya ada lagi beberapa yang sengaja tidak saya highlight di atas seperti keliling Jakarta seharian yang sebenernya cukup menyenangkan karena saat itu saya sedang merindukan nikmatnya menggunakan public transport di Singapura, jadi hari itu saya keliling kota jakarta tidak lepas dari Transjakarta. Lalu tentang ulang tahun saya yang (sempat) terlupakan oleh Mama, tapi kemudian teman saya, Dian, dateng ke Bandung demi sebuah mini surprise, dan sesampainya di Jakarta kosan sudah meriah dengan pernak-pernik ulang tahun dari Kak Rofiqi. Dan banyak lagi. Tapi cerita tentang 2015 tidak akan berhenti disini, karena beberapa akan saya ceritakan lebih detail di cerita-cerita selanjutnya.

Jadi.. untuk resolusi 2016, saya tidak berharap yang macam-macam. Cuma berharap bisa terus sehat, bisa rajin minum air putih, dan ini… badan gedein dikit, lah ya. Kalau yang macem-macemnya sih seperti kata mas Dhonny Dhirgantoro, disimpen disini aja, menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening smile

One Reply

  • Wah awal yang menyedihkan tapi akhirnya menyenangkan gung. Kayaknya 2016 gue harus nyatet momen beginian deh biar bisa direview tahun depannya (kalau masih dikasih umur, amin).

Leave a Reply