Akhir Pekan Untuk Bali

Baliii

Sebenarnya Bali tidak pernah masuk dalam travel bucket list saya, setidaknya sampai dua bulan yang lalu. Mereka yang cukup dekat dengan saya pasti paham bahwa bucket list saya berada pada destinasi-destinasi dengan aksara yang berbeda dengan Indonesia. Pun begitu dengan tahun ini, sebenarnya bukan tahun yang saya inginkan untuk berjalan-jalan, tapi semua berubah ketika keadaan “memaksa” saya untuk pergi sebentar dan ketika destinasi yang paling memungkinkan adalah Bali.

—Oh, sampai kemudian ada berita tentang status Gunung Agung yang berubah menjadi awas setelah saya memiliki tiket pulang-pergi ke Denpasar. Menariknya, tahun lalu pun ada kejadian terorisme di Thailand beberapa waktu sebelum saya berlibur kesana. Bukan tidak jadi berangkat yang saya takutkan, tapi justru tidak bisa pulang karena akses penerbangan yang terhambat lah yang menjadi pertimbangan utama. Bahkan seminggu sebelum keberangkatan, yang saya lakukan tiap pagi adalah melakukan pencarian dengan kata kunci “Gunung Agung” di Twitter.

Cukup yakin dengan kondisi Bali, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Bali di Jumat malam dan kembali di Senin dini hari. Pelit cuti iya, tapi saya pribadi lebih karena merasa “ke Bali sih weekend doang cukup”.

ada yang tidur di Musholla juga

Tidak berbeda jauh dengan perjalanan ke Phuket, saya berangkat kali ini bersama Ilham, Annisaa dan Unay. Dua nama terakhir adalah teman perempuan favorit saya untuk diajak traveling sejauh ini karena selain baik, supportive dan menyenangkan, yang terpenting adalah tidak ribet dan tidak rewel. Saya siap mengendorse mereka kepada siapapun yang berniat meminang mereka nanti, yakin deh mereka akan jadi pasangan hidup yang baik dan menyenangkan. Ehem.

Seperti biasa, sebenarnya ada beberapa drama yang terjadi sampai akhirnya kami berempat berangkat dengan penerbangan terakhir di hari Jumat —tapi diskip saja bagian itu. Pesawat kami landing di Denpasar sekitar pukul 01.00 waktu setempat dan langsung menuju penginapan pertama, yaitu Mushola Bandara Ngurah Rai. Posisi Mushola yang bisa dijadikan tempat tidur sementara ini letaknya tidak jauh dari pintu kedatangan, dan menurut saya kondisinya cukup nyaman, meski di pagi harinya hidung saya meler dan bersin berkali-kali; “Anaknya ngga bisa tidur di karpet” kalau kata teman-teman saya.

Pagi untuk Sanur
On-boarding ke fast boat

Setelah mengisi perut dengan roti dan coklat panas, di hari pertama kami langsung menuju ke Nusa Penida melalui Sanur. Semua berjalan sesuai rencana sampai ketika kami berada di tengah laut dalam perjalanan menuju Nusa Penia, langit mendadak berubah menjadi gelap dengan awan tebal dan hujan yang turun sangat deras. Saat itu saya mulai merasa bahwa liburan kali ini akan gagal karena hujan yang akan terus menemani kami selama di Bali —setidaknya untuk hari pertama di Nusa Penida ini.

“Mas kurang beruntung nih, kemarin-kemarin cerah banget, baru hari ini hujannya” celetuk Pak Dayat —warga asli Nusa Penida yang sudah kami hubungi sebelumnya— sesaat setelah kami menginjakkan kaki di pulau tersebut. Yang kemudian saya balas dengan senyum pahit sambil mempersiapkan motor yang sudah kami sewa. Dan akhirnya dari tiga area yang kami rencanakan untuk dikunjungi, hanya dua yang berhasil; itu pun setelah rencana diubah sedemikian rupa menyesuaikan kondisi fisik kami yang sudah basah kuyup, waktu yang terlanjur siang dan hujan yang masih belum mau berhenti.

Klingking Beach
Doggo di Crystal Bay
kalau kata netizen, “antek asing” semua isinya :))

Sorenya, kami tiba kembali di Sanur tepat saat matahari terbenam dan langsung menuju penginapan kami yang kedua di area Legian. Ini adalah percobaan pertama saya menggunakan Airbnb dan cukup puas dengan apa yang kami dapatkan.

Hari kedua is another thing. Sejujurnya kami belum tau mau kemana di hari kedua, tapi karena ini adalah kali pertama Unay dan Annisaa ke Bali, saya menyarankan untuk kami pergi ke tempat wisata yang ada Pura-nya. Akhirnya diputuskanlah kami akan ke Pura Ulun Danu yang gambarnya ada di pecahan uang Rp 50.000.

Meski sempat salah tempat dikarenakan ternyata ada dua Pura dengan nama ‘Ulun Danu’ —yang artinya ada sekitar 2 jam perjalanan yang terbuang— kami tetap senang. Karena satu hal dari perjalanan menggunakan mobil yang menyenangkan adalah cerita dalam kabin selama perjalanan.

Legian BnB
Nyasar kesini
Pura Ulun Danu Batur yang sebenarnya
Dat femes but overrated cafe in Seminyak — IYA EMANG NGEBLUR

Sayangnya Ilham harus pulang lebih dulu dikarenakan badannya yang kurang fit. Dan tersisalah kami bertiga mengarungi Denpasar sampai hampir tengah malam. Kalau ditanya puas atau tidak, jujur harus dibilang saya belum puas. Bahkan dua hari setelahnya saya langsung bilang ke mereka kalau saya kangen; kangen mengalami Bali bareng mereka. Beda halnya ketika tahun lalu pulang dari Thailand, saya langsung ngga pengen kemana-mana karena sudah kenyang liburan.

Jadi anggapan saya selama ini salah bahwa Bali cukup untuk akhir pekan. Mengalami dan menikmati Bali, membutuhkan lebih dari sekedar sabtu dan minggu, cuaca yang baik dan tentu saja partner yang tepat.

One thought on “Akhir Pekan Untuk Bali

  1. Menurut aku Bali perlu sebulan mas. Bukan karena banyak objek yang harus didatangi, tapi lebih ke supaya atmosfernya lebih terasa di jiwa. Kalau makanan mah, semacam rendang. butuh waktu agar bumbunya lebih meresap dan jadi makanan yang nikmat.

    Tapi realita berkata lain ya, ada yang gak bisa ditinggalkan. :(

Leave a Reply