Gunung Prau, Dieng

Sebenarnya mendaki gunung itu bukan sebuah kegiatan yang gue banget. Tapi karena selepas kuliah kemarin saya punya target untuk bisa menikmati pantai, lautan, sekaligus gunung sebelum benar-benar tidak bisa, maka naik gunung pun saya jabanin. Tepat seminggu setelah saya bermain air di pantai dan laut di kepulauan seribu, saya pergi ke dieng, gunung Prau, tanpa cuti.

Gunung prau adalah target yang paling feasible untuk didaki saat itu. Selain jaraknya yang dekat, ketinggiannya juga tidak terlalu susah didaki bagi pemula seperti saya. Dan tentu saja, karena gunung prau terletak di dataran tinggi dieng, yang mana adalah daerah wisata, saya bisa sekalian berwisata disana.

Saya berangkat jumat malam sekitar pukul 21.00 dari Jakarta menggunakan bis Damri, dan kembali ke Jakarta juga dengan bis yang sama. Kenapa damri? Karena cuma damri-lah yang menyediakan jasa angkutan bis ke Wonosobo sampai malam hari, yang lain rata-rata sekitar pukul 15.00 – 17.00 berangkatnya. Sedangkan jam kantor saya pada hari jumat baru berakhir pukul 17.30. Jadi ya.. Damri.

Sekitar pukul 08.00 saya sampai di terminal wonosobo dan dilanjutkan dengan kendaraan semacam elf menuju dieng. Istirahat sambil sarapan sebentar di sebuah warung makan disana, dan tepat saat waktu dhuhur tiba, pendakian pun dimulai bertemankan sinar matahari yang cukup terik dan udara yang dingin kering. Jalur pendakiannya tidak terlalu panjang, tapi sangat curam dan berdebu. Cukup menghabiskan waktu 3-4 jam saja untuk sampai di puncak gunung Prau.

tenda puncak prau
tenda-tenda di puncak prau (2015)

Sebagai pemula, saya melakukan kesalahan yang cukup fatal ketika mendaki gunung ini: Dibawah, ketika pendakian belum dimulai, karena merasa udara disana sangat dingin, maka saya memutuskan untuk pakai kaos, dilapis sweater, dilapis jaket windbreaker. Udara dingin berhasil ditangkis, tapi efeknya adalah semua pakaian yang menempel di badan saya itu basah oleh keringat! Dan sesampainya di puncak, saya menggigil kedinginan karena baju yang basah. Kebodohan lainnya adalah hanya itu pakaian hangat yang saya bawa. Beruntung teman saya membawa beberapa buah jaket yang bisa saya pinjam. Duh, gung!

sunrise prau
sunrise! (2015)

Setelah melewati malam yang terasa sangat panjang karena udara yang sangat dingin, akhirnya momen matahari terbit yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kabarnya sih, puncak gunung prau adalah salah satu spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Dan ternyata kabar itu ngga salah, cantik banget!

Puas bermain di puncak, sekitar pukul 10.00 perjalanan menuruni gunung di mulai. Jalur untuk turun kali ini beda dengan jalur saat mendaki di hari sebelumnya. Dan tebak, berapa lama waktu yang ditempuh untuk turun ke bawah via jalur ini? Satu jam saja! Beda tiga jam dengan waktu tempuh pendakian kemarin. Jadi memang jalur ini semacam jalur rahasia gitu.

batu ratapan angin
batu ratapan angin (2015)

Tujuan di bawah, selain mandi dan sarapan tentu saja, adalah Batu ratapan angin dan Telaga warna. Sebenarnya saya kurang tertarik dengan telaga warna, selain karena ramai dengan pengunjung, pemandangannya ya.. begitu saja. Berbeda dengan batu ratapan angin yang cenderung sepi dengan pemandangan yang luar biasa bagus. Nah, sembari menuju ke terminal wonosobo untuk kembali ke Jakarta, saya mampir dulu di warung mie ongklok longkrang, katanya ini mie ongklok paling enak di Wonosobo. Kalau di bandung, mie ongklok ini mirip-mirip Lomie lah, kuahnya kental.

Sekitar pukul 17.00 bis damri menuju ke Jakarta berangkat, dan tiba senin dini hari pukul 03.30 di Kemayoran, Jakarta. Capek sih, mengingat beberapa jam setelahnya harus sudah berangkat ke kantor lagi, tapi puas banget! Ngga nyesel milih Gunung prau sebagai gunung pertama yang didaki smile

 

 

 

 

 

Leave a Reply