Mekkah, First Impression

Sewaktu di Madinah, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan seorang guru geografi dari Mesir. Kami bicara banyak hal, dan dia sempat bilang bahwa dia senang bisa ngobrol sama saya. Meskipun bahasa inggrisnya pas-pasan, setidaknya dia jauh lebih fasih dibanding anak muda Aljazair yang saya temui di Masjid Nabawi. Dia cerita banyak, salah satunya tentang Mekkah. Jadi sebelum ke Madinah, dia sudah lebih dahulu ke Mekkah. Setelah dia tau bahwa keesokan harinya saya akan berangkat ke Mekkah, dia bilang gini, “Madinah is beautiful, very beautiful, more than Mekkah”.

Saya sampai di Mekkah sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Suhu udara di Mekkah lebih hangat dibandingkan Madinah, kurang lebih sama-lah dengan suhu di Bandung, sekitar 23 derajat. Dan kesan pertama yang saya dapatkan adalah chaos, berantakan dan agak berdebu. Disini jumlah manusianya lebih banyak daripada di Madinah, dan memang kotanya juga lebih crowded. Bahkan terlihat seperti kota sisa perang. Banyak gedung-gedung kosong yang entah bagaimana ya dibiarkan begitu saja. Bahkan kadang bagian depannya sudah hancur dan sisa-sisa serpihan menumpuk didepannya. Pernah lihat berita tentang perang di Timur tengah kan? Nah kurang lebih yang seperti itu banyak terlihat di kota Mekkah. Ngga semua sih, banyak yang tertata rapi dan indah juga, kok.

mekkah

kabah mekkahSelain itu, saya merasa perangai orang-orang Mekkah lebih menyeramkan dibandingkan orang-orang Madinah. Ternyata ustad pembimbing saya mengiyakan perasaan saya itu, beliau cerita panjang lebar kenapa bisa seperti itu. Tentu saja ada hubungannya dengan kisah Nabi Muhammad dulu. Saya sempat bilang gini ke kakak saya sewaktu di perjalanan menuju Masjidil Haram, “Mungkin itu alasan Nabi Muhammad diutus di kota Mekkah, kacau banget. Udah ada Nabi Muhammad aja sampai sekarang masih berantakan gini”. Dan dibandingkan penduduk kota Madinah, penduduk disini sepertinya sangat sedikit yang bisa bahasa Indonesia.

Sesampainya di Masjidil Haram, ternyata memang masih berantakan. Banyak area ditutup dengan pembatas seng. Wajar sih, kan lagi pembangunan. Tapi sayang, kemegahan dan kesucian tempat suci umat islam ini seolah tertutup oleh crane, dan semua alat-alat berat yang mengelilingi masjid ini. Bahkan di dalam masjid juga karena ada pekerjaan pembangunan jadi ya banyak besi-besi, asbes, dan alat berat lainnya. Ditambah dengan jumlah manusianya yang super banyak mengingat ini adalah awal musim umrah, 24 jam ngga pernah sepi. Mekkah benar-benar kota yang ngga pernah tidur.

mekkah

mekkah

Tapi yang hebat adalah lantai di area masijd, mulai dari teras luar sampai dalam masjid, seluas itu, dengan proyek pembangunan di dalam dan sekitarnya, ngga ada yang kotor. Tim kebersihannya professional banget kerjanya. Mereka selalu bergerak secara tim dan cepat, juga dengan alat-alat yang canggih.

[pullquote align=”left” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Indeed we belong to Allah , and indeed to Him we will return.[/pullquote]

Meskipun banyak hal-hal mengganggu disekitaran Masjidil Haram, tapi ngga bisa dipungkiri, ada ketenangan dan kedamaian ketika kita ada di dalam sana. Duduk bersimpuh menatapi kabah, dengan iringan suara ribuan manusia yang berdoa memuji Tuhannya. Sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Pasti, setiap manusia ingin kembali kesini, Insyaallah smile

One thought on “Mekkah, First Impression

Leave a Reply