Bermotor ke Bromo

Emang bisa? —adalah satu dari sekian banyak respon yang muncul setiap saya bilang akan ke Gunung Bromo naik motor. “Berdua aja?”, “Kenapa ngga naik mobil aja?”, “Dibegal nanti, lho!” dan “Mending jangan” adalah respon lanjutan setelah saya mencoba meyakinkan mereka bahwa saya akan melakukannya. “Kalau dari malang sih gapapa” —engga, kami akan berangkat dari Surabaya.

Berawal dari celetukan teman saya beberapa bulan lalu tentang keinginannya untuk ke Gunung Bromo yang langsung saya respon dengan “Yuk, kapan?” —tipikal saya banget yang ngga pakai babibu langsung ‘Ayo’. Yang akhirnya terealisasi juga akhir bulan lalu.

“Kita berangkat malam aja, jam 12 atau jam 2 dini hari” usulnya, “biasanya teman-temanku berangkat jam segitu”

Awalnya saya setuju, tapi mengingat kami berdua yang awam dengan medan yang akan dilalui dan kondisi malam hari yang rawan akan kejahatan —apalagi kami cuma berdua!— membuat saya sedikit mengendurkan ambisi untuk melihat sunrise di sana. Lagi pula bukan sunrise alasan utama saya ingin pergi ke Bromo.

“Kita berangkat sebelum subuh aja gimana?”

Bromooo~

Sebagai catatan bahwa kami sama sekali tidak ada persiapan khusus untuk perjalanan ini. Saya dari Jakarta hanya berbekal jaket dan sweater yang biasa saya gunakan untuk ke kantor. Pun tidak pernah mencari di internet bagaimana cara menuju ke sana, karena dalam bayangan saya, ini tidak akan terlalu susah. Lagipula teman saya ini orang Jawa timur yang pernah kuliah di Malang, dan menurut ceritanya, teman-temannya sudah banyak yang pergi kesana, pastilah dia tau gambaran arah menuju ke Gunung Bromo.

“Udah tau kan nanti arahnya?”

“Pokoknya nanti di Gempol itu belok kiri, setelah itu ngga tau”

“…”

Pukul 4 pagi kami sudah siap untuk berangkat lengkap dengan air minum, kamera dan gorilla pod yang baru saja kami beli kemarin malam. “Tunggu subuh dulu sebentar, tanggung” ujar ibu dari teman saya ini. Akhirnya kami pun duduk sambil menikmati kopi hangat buatan ibu, biar ngga ngantuk di jalan katanya.

Pukul 4.45 kami pun berangkat menggunakan Yamaha N-Max. Sepanjang jalur Surabaya-Sidoarjo motor saya pacu di kecepatan 80-90 km per jam mengingat jalanan yang masih sepi dan lurus. Memasuki daerah Porong jalanan mulai padat dengan kendaraan besar dan jalanan yang mulai bergelombang bahkan botol air mineral saya sampai terjatuh di jalan.

Sampai di bundaran Gempol langit masih gelap, dan kami mulai bingung. “Seingatku ke kiri” ujar teman saya sambil sedikit mengantuk, “iya tapi tadi aku lihat petunjuk kok ke kanan ya?”. Akhirnya saya membuka Google maps untuk memastikan arah kami sembari bertanya pada ibu-ibu yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi kami berhenti.

“Belok kiri nak, lurus terus sampai Pasuruan nanti tanya lagi”

Motor kembali saya pacu, namun kali ini tidak bisa terlalu cepat karena jalanan pantura yang ramai dengan kendaraan besar. Sesampainya di daerah Pasuruan langit mulai terang dan indikator bensin mulai menunjukkan tanda-tanda harus segera diisi. Sayangnya selepas Pasuruan kebanyakan SPBU berada di jalur kanan.

Setelah kurang lebih dua jam berjalan, kami menepi di sebuah SPBU sebelum masuk Probolinggo untuk mengisi penuh BBM sambil bertanya arah ke Gunung Bromo.

“Nanti di depan belok kanan mas, ada masjid besar sebelumnya”

Benar saja, kurang lebih 10 menit dari SPBU tadi saya melihat masjid besar di kanan jalan dan tidak lama kemudian terlihat gapura bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KAWASAN GUNUNG BROMO” di sebelah kanan. Setelah masuk ke gapura tersebut, jalanan akan menjadi hanya dua jalur dengan pemandangan indah dan udara yang sejuk.

Untuk ukuran menuju ke sebuah Gunung, jalan yang saya lalui ini (Jalan Raya Bromo) cukup bersahabat. Tidak ada tanjakan curam yang awalnya saya takutkan mengingat motor yang saya bawa adalah motor matic. Bahkan jalan menuju Bukit Moko yang tidak jauh dari rumah saya di Bandung,  jauh lebih curam dibandingkan jalur ini.

Sekitar pukul 7.30 kami tiba di gerbang masuk kawasan Gunung Bromo. Dengan membayar sebesar Rp 60.000 untuk dua orang dan satu motor, kami bebas berkeliaran sampai kapanpun. Sangat bersyukur karena pasir-pasir di kawasan Gunung saat itu sedang sedikit basah —mungkin karena hujan, sehingga motor yang kami kendarai tidak mengalami kesulitan sama sekali melaju di hamparan pasir bromo. Udaranya pun tidak terlalu dingin tapi juga tidak panas. Sangat menyenangkan meski sepertinya saat itu hanya kami dan beberapa orang saja yang berkeliaran di sana dengan sepeda motor, kebanyakan naik mobil jeep sewaan.

Sekitar pukul 10.00 kami memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Ternyata tantangan sesungguhnya bagi motor matic adalah jalanan menurun. Awalnya dengan senang hati saya lepas saja tuas gas agar motor menggelinding bebas, tapi setelah dipikir-pikir, apa yang saya lakukan barusan salah. Karena dengan dibiarkan menggelinding, saya harus terus menerus mengerem sepanjang jalan, “bisa habis kampas rem kalau gini terus”.

Padahal, dengan sedikit membuka gas, motor justru akan lebih mudah dikendalikan tanpa perlu terus menarik tuas rem. Karena ketika gas dibuka sedikit lalu ditutup kembali mekanisme engine brake akan bekerja.

Jadi, kalau ditanya “Emang bisa naik motor ke Gunung Bromo?” jawabannya bisa dan gampang banget, asal tetap hati-hati ya. Jangan lupa pastikan motor dalam kondisi prima sebelum melakukan perjalanan.

3 thoughts on “Bermotor ke Bromo

Leave a Reply