Sebuah Rencana

Entah suatu hari di bulan apa saya lupa, saya memutuskan untuk pergi ke Thailand di bulan November tahun ini —sendirian. Setelah mencari berbagai referensi baik cetak maupun digital, akhirnya saya memutuskan akan ke Bangkok sambil mampir sebentar ke Singapura. (1)

Maret 2016. Dalam sebuah percakapan hangat di sebuah kafe di kota Bandung, tercetus sebuah keinginan untuk pergi ke Thailand oleh Annisaa, yang tetiba membuat bibir saya gatal sekali ingin menyahut, “Yuk!” saat itu juga. Tapi saya urungkan, karena niatnya kan sendirian; dan juga karena alasan lain tentunya HEHE.

Dalam sebuah percakapan digital lainnya beberapa saat setelah itu, akhirnya saya membisikkan rencana trip ke Thailand saya ke Annisaa, dan kami sepakat bahwa ini tidak akan sekedar wacana. (2)

Dalam waktu yang berdekatan, Rama menyampaikan niatannya untuk ke Jepang, saya pun ingin. Tapi karena saya sudah punya plan di akhir tahun, sepertinya saya harus berfikir dua-kali. Singkatnya, Rama malah tertarik untuk ikut bergabung ke Thailand. (3)

Unay katanya pengen ke Thailand juga, Gung..”

“Yaudah yuk, ajakin aja..” (4)

Last but not least, rasanya ngga afdol kalau pergi tanpa mengajak Ilham. Sengaja saya simpan di akhir, karena seyakin-yakinnya: Ilham pasti mau. (5)

***

I’ve never been this excited. Beberapa kali kami bertemu untuk sekedar berdiskusi mengenai rute perjalanan dan perencanaan keuangan, yang akhirnya berubah dari rencana awal saya (Jakarta-Singapura-Bangkok), menjadi (Jakarta-Singapura-Kuala Lumpur-Phuket). Saya ikhlas.

Bukan tanpa drama, saya kehilangan tiket promo Malaysia Airlines untuk perjalanan Kuala Lumpur-Phuket, karena ternyata ada pasport yang belum siap. Yang ini agak kurang ikhlas HAHA karena saat itu sempat muncul pikiran jahat, “Coba kemarin jadi jalan sendiri, pasti ngga kayak gini”, sht.

Drama kedua. Ilham tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai Thailand dikarenakan dia baru saja diterima di tempat kerja yang baru, yang itu artinya, dia belum bisa ambil cuti. So, he will stay in Singapore. Sad.

Drama ketiga. Annisaa dan Unay. Mereka ngga jadi berangkat karena pernikahan sahabat mereka yang dilaksanakan tepat di hari keberangkatan kami —dengan tiket yang sudah dibeli. Saat itu rasanya ingin batal saja, atau paling tidak cukup sampai Singapura saja seperti Ilham tanpa perlu ke Kuala Lumpur apalagi Phuket.

Menanggapi batalnya Annisaa dan Unay ke Thailand, saya dan Rama menjadi semakin sering terlibat diskusi baik digital maupun diskusi meja makan. Yang terakhir diskusi di sebuah bar restoran jepang favorit kami; Sushi tei.

Kesimpulannya saat itu adalah kami akan tetap berangkat ke Thailand dan ajak siapapun yang sekiranya akan sama asik-nya jika diajak pergi menggantikan Annisaa dan Unay —yang kemudian kami sadar bahwa itu mustahil. Yang terakhir dan yang paling penting: terus menggoda Unay dan Annisaa untuk beli tiket susulan ke Thailand; karena kami tau, sebenarnya mereka (masih) mau.

Comments 2

Leave a Reply