Travelogue
Leave a comment

Tokyo: Itinerary

Percaya ngga kalau saya bilang bahwa saya baru bikin itinerary setibanya di Jepang? Satu-satunya saksi hidup ketidaksiapan saya adalah Kak Fiqi yang cuma bisa ketawa-ketawa lihat saya pusing malam-malam mencatat tujuan untuk 7 hari kedepan. Atau beberapa teman kantor yang mungkin sering mergokin saya googling soal Tokyo tanpa menghasilkan satu catatan apapun.

Keuntungan buat saya yang sudah sering melakukan perjalanan adalah, setidaksiap apapun itu, pasti ada plan. Termasuk ketika membeli tiket pesawat yang tiba di bandara Haneda, dan pulang melalui bandara Narita. Keputusan itu saja sudah cukup membuat itinerary saya selanjutnya menjadi lebih mudah.

Kenapa memilih Haneda sebagai bandara kedatangan dan Narita sebagai bandara kepulangan? Jawabannya sederhana: Karena Haneda lebih dekat ke pusat kota Tokyo. Jadi sebagai orang yang masih awam dengan Jepang dan seorang diri seperti saya ini tidak akan terlalu mengalami kesulitan untuk menuju ke tempat menginap di pusat kota.

Setelah tanggal kedatangan dan kepergian ditentukan berikut dengan bandaranya, langkah selanjutnya adalah menentukan moda transportasi yang akan digunakan. Tentu saja sebagai cheap-skate saya selalu mencari cara agar semuanya serba low-cost. Dan karena kereta di Tokyo itu sangat bisa diandalkan dan moda transportasi lainnya (taksi) sangat tidak masuk akal harganya, maka pilihannya adalah berkereta selama di Jepang. Sisanya? Jalan kaki. Act like locals, kan?

Empat hari pertama

Setibanya di Haneda, saya langsung ke loket Keikyu-Kuko Line untuk membeli tiket sekali jalan menuju Asakusa (karena saya menginap di Asakusa) seharga ¥660. Kenapa ngga pakai subway pass? Karena saya belum beli dan saat itu setau saya tidak ada yang menjual Tokyo subway pass di bandara Haneda. Padahal ternyata ada yang jual di Tourist information center sad

Sesampainya di stasiun Asakusa, saya langsung membeli Pasmo card— semacam kartu emoney yang bisa digunakan untuk membayar tiket kereta, bus, beli minuman di vending machine, bayar makanan di McD dan bayar apapun di manapun. Keuntungannya adalah kita ngga perlu repot-repot bawa uang receh sisa kembalian dari setiap transaksi yang kita lakukan. Maklum, jepang adalah negara yang banyak uang koinnya, jadi bisa dipastikan kalau ngga pakai Pasmo atau Suica card kita bakal banyak menerima uang koin sebagai kembalian.

Kekurangannya, sebagai turis, kita akan membayar tiket kereta dengan harga normal. Makanya di hari kedua, saya langsung mencari BIC Camera— semacam toko serba ada mulai dari elektronik sampai alat mandi, untuk membeli Tokyo Subway Pass.

tokyo subway pass

Tokyo Subway Pass ini ada tiga jenis: 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Saya sengaja membeli yang 48 jam karena berencana akan menggunakannya di hari ketiga dan keempat, menyesuaikan dengan itinerary saya yang akan berkeliling Tokyo di hari ketiga dan keempat. Harganya murah banget, hanya dengan ¥800 untuk 24 jam, ¥1200 untuk 48 jam dan ¥1500 untuk 72 jam, kita sudah bisa menggunakan semua kereta yang berada di jalur Tokyo metro dan Toei line dengan bebas. Recommended!

Lalu bagaimana dengan hari kelima, keenam dan ketujuh?

Setelah kurang lebih 4 hari berkeliling kota Tokyo, rasanya saya ingin 3 hari terakhir ini pergi agak jauh. Yaa.. melipir-melipir ke pinggiran kota Tokyo, lah. Dari sekian banyak destinasi di pinggiran Tokyo, yang menarik buat saya untuk dikunjungi adalah Kawagoe, Yokohama, dan tentu saja Fujiyama. Selain itu tidak lupa di hari terakhir saya harus ke bandara Narita yang juga letaknya di pinggiran Tokyo. Dilihat-lihat dari tujuannya sih cuma ada satu kartu yang bisa bikin semuanya lebih mudah dan murah: JR Tokyo Wide Pass.

 

JR Tokyo wide pass

JR Tokyo Wide Pass adalah tiket terusan yang berlaku untuk area Tokyo dan area Kanto. Harganya ¥10,000 dengan masa berlaku selama 3 hari berurutan. Pass ini bisa digunakan untuk naik shinkansen, limited express, rapid train, local train dan kereta-kereta tertentu yang beroperasi di area yang di-cover JR Tokyo Wide Pass– termasuk Narita Express untuk ke bandara Narita. Intinya sih tiket terusan ini akan terasa murah ketika dalam 3 hari masa berlakunya, kita berencana melakukan perjalanan cukup jauh ke pinggiran Tokyo. Untuk skenario perjalanan menggunakan JR Tokyo Wide Pass bisa di cek di Infojepang.net, ya!

Jadi, secara singkat itinerary saya di Tokyo kemarin selama 7 hari kurang lebih sebagai berikut;

  • Hari-1 : Haneda > Asakusa
  • Biaya transportasi: Beli tiket pakai cash di Haneda (¥660)
  • Rekomendasi : Beli Tokyo Subway Pass di bandara Haneda, tourist information center

  • Hari-2 : Asakusa > Tokyo > Akasaka > Shibuya > Asakusa
  • Biaya transportasi : Pakai Pasmo (¥170 + ¥170 + ¥170 + ¥240 = ¥750)

  • Hari-3 : Asakusa > Ginza > Yanaka Ginza > Nezu > Shinjuku > Ginza
  • Biaya transportasi : Pakai Tokyo Subway Pass (¥1,200)

  • Hari-4 : Ginza (Tsukiji fish market) > Odaiba > Ginza > Harajuku > Ginza
  • Biaya transportasi : Pakai Pasmo untuk Ginza <-> Odaiba (¥320+¥320=¥640), sisanya pakai subway pass (¥0)

  • Hari-5 : Ginza > Shinjuku > Kawagoe > Shinjuku > Ginza
  • Biaya transportasi : Pakai subway pass ke Shinjuku, lalu beli JR Tokyo Wide pass (¥10,000)

  • Hari-6 : Ginza > Shinjuku > Kawaguchiko > Yokohama > Ginza
  • Biaya transportasi : Pakai JR Tokyo Wide pass (¥0)

  • Hari-7 : Ginza > Shinjuku > Narita
  • Biaya transportasi : Pakai JR Tokyo Wide pass (¥0)

 

Kurang lebih seperti itu. Bukan itinerary yang sempurna memang, maklum baru pertama kali, jadi masih ada beberapa kebocoran biaya seperti tidak memakai Tokyo subway pass dari hari pertama, kemudian JR Tokyo wide pass yang kurang jauh dipakainya, dan sebagainya. Tapi setidaknya dengan itinerary seperti ini, saya sudah berhasil menghemat beberapa yen.

Next time pasti lebih rapi lagi. Semoga!

Leave a Reply