Tokyo, Kemarin

tokyo di bulan April

Saya kesal setiap ada dari mereka, teman-teman saya, yang selalu mengait-ngaitkan saya dengan Jepang. Kesal karena saya belum jadi-jadi juga ke sana. Setiap dari mereka yang sudah pernah ke Jepang, selalu bilang bahwa Jepang cocok buat saya. Cocok apanya sih?

“Pas di Jepang langsung kepikiran, ini Agung banget”

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka berfikiran seperti itu. Bagaimana caranya sebuah kota atau negara bisa diasosiasikan begitu dekat dengan sosok manusia biasa macam saya. Dan semakin banyak yang berfikiran seperti itu, semakin saya kesal dan penasaran. Itu sebabnya kemarin saya memutuskan untuk pergi ke sana— “Get lost, to find yourself” kalau kata orang bijak.

Yanaka Ginza
Yanaka Ginza
Nezu Shrine
Nezu Shrine

Dalam kurun waktu dua minggu, saya memutuskan untuk mengajukan cuti, ijin ke orang tua, beli tiket pulang pergi, dan mengajukan visa seminggu sebelum keberangkatan. Dadakan? Iya. Bahkan perlengkapan saya baru dipacking enam jam sebelum jadwal penerbangan dari Jakarta. Mereka yang tau, hanya bisa geleng-geleng melihat saya yang tetap terlihat santai dengan kespontanitasan ini. Sudah biasa, jawab saya setiap ditanya apakah semua akan baik-baik saja.

Sebelumnya saya harus berterimakasih kepada kak Rofiqi karena dia yang terus meyakinkan saya bahwa bulan April kemarin adalah saat yang tepat untuk mengalami Jepang di Tokyo— karena kebetulan dia juga sedang di sana. Jadi selain bisa ngebolang bareng, juga bisa membantu memperkenalkan cara hidup di sana, sebelum akhirnya saya benar-benar bisa dilepas sendirian.

Philipine Airlines, Airbus A330
Philipine Airlines, Airbus A330

Terbang ke Tokyo, saya sengaja tidak memilih maskapai merah kesayangan yang sedang gencar mengobral tiket Jakarta – Narita, dan memilih Philipine Airline dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah keinginan saya untuk ke Manila terlebih dahulu. Dan ternyata saya sangat senang atas pilihan saya ini. Pelayanan dari Philipine Airline yang di luar ekspektasi ini membuat saya menjadikan maskapai ini sebagai alternatif untuk penerbangan-penerbangan selanjutnya. Bahkan saya berencana membuat satu tulisan khusus yang membahas pengalaman saya dengan flag carrier asal Filipina itu— semoga sempat.

Berbicara itinerary, memang saya hanya ingin di Tokyo dan sekitarannya saja. Sempat terbesit untuk meneruskan perjalanan ke Osaka dan Kyoto. Tapi sepertinya Tokyo sendiri sudah menjadi destinasi menarik untuk saya jelajahi dalam waktu sepekan. Believe you me, Tokyo itu super luas. Jadi saya sedikit heran kalau ada yang rela tujuh harinya dibagi-bagi ke Kyoto, Osaka, atau bahkan Hiroshima dan Hokkaido— mana kerasa?

“Osaka sama Kyoto di simpen buat bulan madu, deh” – Agung, 25

Saya paham bahwa itinerary bisa berdampak banyak buat biaya yang akan kita keluarkan. Makanya sedadakan apapun perjalanan yang saya lakukan, itinerary yang saya buat tidak akan pernah main-main, apalagi di Jepang. Harus paham lokasi mana yang mau kita tuju, kapan dan berapa lama di sana. Dari sana saya bisa merencanakan kira-kira saya harus pakai moda transportasi apa, apakah ada pass yang bisa dimanfaatkan, apakah lebih murah pakai daily pass atau tidak, dan sebagainya.

Asakusa, Tokyo
Ginza, Tokyo
Ginza, Tokyo

Selama di Tokyo kemarin, setidaknya saya menggunakan dua jenis pass yaitu Tokyo Subway Pass (48 jam) untuk hari kedua sampai hari keempat dan JR Tokyo wide pass untuk hari kelima sampai hari ketujuh. Simpelnya: Tokyo Subway Pass untuk dalam kota dan JR Tokyo wide pass untuk ke kota-kota pinggiran Tokyo termasuk Bandara Narita, Yokohama, dan Fuji.

Dan setelah sepekan mengalami Tokyo di musim semi kemarin, sedikit banyak saya mulai paham kenapa negara dan kota ini banyak diasosikan dengan saya. Mungkin akan terdengar sedikit narsis, but let me give it a try; menurut saya color palette di negara ini— mulai dari bangunan, langit, sinar matahari, dan pakaian orang-orangnya, mirip dengan color palette yang sering saya gunakan baik di pakaian saya, foto-foto, maupun barang-barang milik saya.

Tokyo Yellow Taxi
Jalan-jalan sore
Jalan-jalan sore

Selain itu ketenangan, kecepatan, keramahan dan kepraktisan yang dimiliki oleh Jepang juga sedikit banyak saya coba terus aplikasikan dalam keseharian. Ya gimana dari kecil disuguhin film jepang terus :))

Dan terakhir, jalanannya. Saya ngga paham kenapa jalanan di Jepang bisa semenyenangkan itu. Terlebih buat saya yang doyan mengambil gambar di jalanan alias street photograph. Siluetnya, garis-garis bangunannya, bayangannya, dan sinar mataharinya— sempurna. Maka saya akan menyarankan bagi siapapun untuk paling tidak sekali saja, kunjungi Jepang.

Sayonara!

Leave a Reply