Umrah dan Madinah

Sepeninggalan papa tahun lalu kemarin, mama langsung bikin statement kalau kita akan pergi umrah sekeluarga. Isu ini memang beberapa kali muncul pada sesi-sesi diskusi ringan keluarga waktu papa masih ada. Tapi seringnya cuma jadi wacana karena dengan berbagai pertimbangan. Kemarin, mama langsung memutuskan bahwa kami harus umrah tahun itu juga, “mumpung rejekinya masih ada” kata mama. Selain itu, biar kami juga bisa mendoakan papa disana.

umrah to madinah

Katanya, ibadah umrah atau haji itu perlu lapisan kesabaran yang ekstra tebal, karena akan banyak hal yang bikin kita kesal di tanah suci nanti. Itu bohong, karena hal yang bikin kesal itu sudah muncul bahkan ketika masih di tanah air. Jadi ceritanya, saya baru bisa boarding setelah hampir 8 jam saya nongkrong di terminal 2 bandara soekarno hatta. Kali ini tujuannya Madinah, bukan Jeddah seperti kebanyakan. Delapan jam itu termasuk nunggu rombongan dari Bandung, nunggu pembagian boarding pass dan passport, dan tentu saja delay 3 jam; yah namanya juga lion air.

lion air a330

Sebenernya ngga kesel sih, cuma capek aja. Tau yang bikin kesel apa? Justru orang-orang yang juga sesama jamaah umrah-lah yang paling potensial bikin kesel, baik ketika itu masih di Indonesia, sampai di Madinah, di Mekkah, dan balik lagi ke Indonesia. Dan sayangnya, kita akan terus bareng-bareng selama 9 hari kedepan, jadi memang kesabarannya harus super ekstra. Harus.

Perjalanan selama kurang lebih 10 jam dengan Lion Air A330 kemarin alhamdulillah berjalan lancar. Pesawatnya baru 1 bulan usianya, jadi masih bagus banget. Pelayanan di udaranya juga cukup baik. Dan karena penerbangannya siang hari, jadi saya bisa lihat di jendela setiap perubahan daerah yang kita lewati. Mulai dari Indonesia yang cenderung padat dan hijau dengan pantai dan lautnya yang biru, lalu masuk ke dataran India dan timur tengah yang kosong banget kelihatannya. Cuma ada batu, tanah, dan gurun. Kayaknya panas banget disana, ya.

jabal uhud

Sewaktu menunggu check-in di Bandara Soekarno Hatta, saya sempat ngobrol sama seorang ibu yang mau ke Singapura, yang menurut pengakuannya, dia sudah sering ke Arab Saudi. Katanya, siapin jaket dan tenaga karena proses imigrasi nanti disana bakal lama banget antara 5 sampai 8 jam. Waduh. Tapi alhamdulillah lho, sesampainya di Bandara Prince Mohammed bin Abdulaziz Madinah, proses imigrasi kami berjalan lancar. Cuma memakan waktu kurang lebih setengah jam dan kami sudah duduk anteng di dalam bis yang sudah terparkir di depan Bandara.

Impresi pertama tentang Madinah adalah bandaranya bagus banget dan cuacanya dingin, ditambah saat itu saya tiba di Madinah malam hari, sekitar jam 8 waktu setempat. Bahagianya adalah ternyata madinah memang bikin betah!

masjid nabawi

Dalam persepsiku, Madinah itu kota yang aman dan tentram, seolah semesta mendukung, langit disana selalu cerah dan bersih dengan matahari yang terik tapi suhunya tetap sejuk. Bener-bener sebuah kota yang penuh berkah. Disini sebagian besar pedagangnya bisa bahasa indonesia walaupun agak aneh, bahkan kita bisa bayar pakai rupiah di beberapa toko. Dan seperti di kota-kota lainnya di Arab Saudi, disini setiap jam sholat toko-tokonya tutup. Mendengar dari cerita ustad pembiming rombongan kami, jam kerja di Madinah itu setelah dhuhur sampai jam 8 malam, enaknyaa.

makam rasulullah

Selama di Madinah, saya betah banget berlama-lama di Masjid Nabawi. Di masjid nabawi ini terdapat makam rasulullah, abu bakar, dan umar bin khatab. Ribuan orang selalu antri untuk bisa melihat dari dekat makam rasulullah. Saya yang juga penasaran untuk mendekat akhirnya nyoba. Tapi berhubung saya orangnya males desak-desakan dengan alasan keamanan (badan saya tipis banget dibandingkan orang-orang yang ada disana), saya justru ambil jalur sebelahnya yaitu jalur shaf pertama, kedua dan ketiga, which is bukan jalur legal untuk menuju ke dekat makam rasul. Jadi orang-orang itu antrinya mulai di shaf keenam. Saya jalan aja terus dengan tiis-nya ketika yang lain antri lama.

Tiba-tiba saya sudah di depan makam nabi Muhammad. Terus saya malah kaget sendiri, “lho, ini udah di depannya, kenapa orang-orang harus antri sih?” Setelah beberapa menit memikirkan jawabannya, yang sepertinya karena orang-orang ingin bisa menyentuh pagar makam, padahal saya jaraknya cuma 3 meter dari pagar makam which is sudah sangat dekat untuk bisa melihat makam rasulullah, akhirnya saya sadar saya harus berdoa disini (duh, gung!) Dan saya nangis disana. Langsung terbayang semua cerita perjuangan nabi Muhammad dari awal, dari perang-perangnya, dari hujatan kaumnya, tapi dia tetap sabar. Sedih sekaligus terharu karena saya ngga nyangka bisa sedekat itu dengan manusia paling sempurna di dunia dan di akhirat, yang selama ini saya dan jutaan orang di seluruh dunia berusaha ikuti semua sunnahnya. Subhanallah.

raudah

Setelah itu ada raudah, masih di dalam masjid nabawi, yang disebut taman surga. Katanya yang berdoa dan sholat disana doa-doanya insyaallah akan dikabulkan. Siapa yang ngga mau? Dan hasilnya adalah orang-orang berebutan kesana. Saling sikut dan dorong-mendorong. Kadang saya mikir, ada yang salah dengan ini. Ibadah ngga seharusnya kayak gini. Hilang sudah kekhidmatan dalam beribadah. Gimana mau dikabulkan doanya kalau jiwa ini ngga bisa fully connected dengan Tuhan karena didesak kanan-kiri-depan-belakang. Wallahualam. Once saya pernah nyoba, dengan berbagai usaha, udah keinjek-injek juga, sujud dan rukuk yang ngga sempurna karena sakit keteken badan orang super besar di kiri dan kanan, sayangnya saya belum sampai ke karpet hijau. Jadi raudah itu katanya cuma disebatas karpet hijau itu. Sedangkan saya ada di dekat sana, tapi ternyata masih karpet merah. Sedih.

starbuck madinah

Hari terakhir di Madinah, saya dapat teman baru dari Aljazair. Dia ngajak saya kenalan setelah sholat maghrib, saya rasa itu karena dia merasa kita seumuran. Setelah dia tau umur saya, ternyata dia lebih muda 2 tahun, dia kaget. Iya, muka saya memang awet muda HAHA. Walaupun bahasa inggrisnya pas-pasan, tapi dia selalu nyoba berkomunikasi sama saya. Malah saya diajari bahasa prancis sama dia, karena bahasa prancis adalah bahasa kedua di Aljazair. Terus dia sepertinya penasaran, karena saya ngga bisa bahasa arab, lantas bagaimana bisa baca al-quran. Dia juga nanya apa saya hapal beberapa surat pendek, yang lucunya, karena dia bingung cara nanyanya, dia malah ngasih contoh baca surat al-ikhlas sambil pakai campuran bahasa isyarat dan inggris yang kikuk. Sayang, meskipun kami (ternyata) menginap di hotel yang sama, dia menghilang di tengah lautan manusia selepas sholat Isya.

Diperjalanan menuju Mekkah, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan kembali lagi kesini. Insyaallah smile

2 thoughts on “Umrah dan Madinah

Leave a Reply